Lama tak bersua atau sedang tenggelam dalam mimpi yang seakan-akan terwujud namun masih ditelan gersang siang dan malam..atau bahkan sedang merindukan sang Khaliq yang sebenarnya ada namun sulit dirasakan dan di terjemahkan…
kunjung lagi nie.wah perkembngan udah diterbitin nie kolomkiri.selamat ….k
enapa gak share difb ato twitt jg..?hehehe
“telah berbelok arah angin muson,telah penat bumi menahan panas yang menyala,dan berubah gradasi warna hijau kehidupan menjadi kelabu dalan kepulan asap pekat……..bumi yang seakan mulai berorasi, menyisipkan makna hidup kepada kita,sebuah balasan tiada ampun…….apakah sebuah doa cukup untuk itu??????”
mungkin ada banyak aspek yang bisa kita lalui untuk memandang bencana yang bertubi-tubi menimpa nusantara, andai benar itu merupakan hukuman mengapa harus pilih kasih dan kawulo alit yang harus dihukum, sedangkan penyumbang dosa yang begitu besar atas kemelorotan moral bangsa malah pada melenggang piknik ke luar negeri.
mungkinkah kita memandangnya sebagai sebuah pembebasan dari kekerdilan pemikiran yang telah kita ikuti, dari iri dengki terhadap kemaksiatan dan legalisasi karena banyak yang melakukan (benere wog akeh)
dan pada akhirnya duka akan berakhir sebuah kebahagiaan, siklus kehancuran telah dilalui dan tidak mungkin tanpa akhir, tsunami Aceh berujung perjanjian damai dari perang yang kejam, letusan merapi berakhir pada kesuburan bumi (sarwo subur kang tinandur, sarwo murah kang tinuku)
dan itu akan tercapai ketika pikiran kita bebas dari endapan kotor, dari perasaan paling benar, dari keinginan menjadi hakim sekaligus jaksa untuk sebuah keyakinan
percaya dengan keimanan yang penuh ,bahwa apa yang sedang terjadi bukanlah tanpa makna
dan apa yang tidak terjadi tidaklah selayaknya terjadi.
sebuah kasih sayang yang disuguhkan sedikit berbeda, hal yang lebih berasa,lebih spesial,dan lebih dahsyat hasil akhir yang didapat……yaitu bencana.sebuah tamparan kasih sayang dariNya,membuat semua lebih sedikit ikut bekerja…!!!kalau tidak sekarang kita disapa,kapan lagi kita bisa sadar,kapan lagi kita bisa perbaiki..????maka dari itu…….. kinilah kesabaran itu dipertanyakan.
ya mungkin seperti itu……?????hehehehe maaf sotoy nie ida
Ada kalanya setitik hal sepele adalah pijakan yang kuat dan menjadi pembenar sebuah pemikiran. Akulturasi budaya yang notabene adalah asing kemudian terakomodasi begitu rupa, salah satunya adalah berpikir dan bertindak “instan”. Sesuatu yang lebih menghargai sebuah ujud ketimbang buah pemikiran yang dianggap semu dan tidak berhasil. Materialisme menjadi raja di tengah hamparan padang kehausan meski sebenarnya tersimpan oase sejuk tetapi terlihat hanya sebagai fatamorgana. Sementara tipuan kepraktisan tak lebih terpandang sebagai sesuatu yang mudah dan nikmat.
Salah satu efek dan hasil dari budaya materialisme adalah kecenderungan ingin instan, dalam berbagai macam hal. Mulai dari membangun karir, membangun ekonomi sampai masalah pribadi, semua pada pingin instan. Dan ternyata, budaya instan ini yang, sadar atau tidak sadar, membentuk set mind kita dalam menilai sesuatu ; menganggap semua bencana ini adal reaksi instan Tuhan dari kelakuan minus kita.
maju terus pantang mundur
layar sudah terkembang
bendera sudah dikibarkan
pantang untuk surut
Dari kolomkiri…ke kolomkirinews !
(ini judul perjalanan hari ini)
Salam kenal dan hormat,
pinggirsentris
sebenarnya lahir dari ide yang sepaham
kemudian harus dipilah dan dipilih maka inilah hasilnya
assalamu’alaikum wr.wb
salam kenal dan terimakasih dari artikel2nya,mungkin bisa berkunjung ke web ida,disamping kenal mungkin bisa saling bertukar ilmu.terima kasih
http://islamic07.blogspot.com
wassalamu’alaikum wr.wb
lha gimana kalo tuker link…..???
ninggalin jejak di buku tamu…
salam kenal…
salam persahabata,….
Salam kenal mas bro tetap menulis apa kata hati, blogger orang independen kan
independent tapi tetap peduli pada kepentingan orang lain
Tukeran link ya – salam
monggo
link segera dipasang
Saya tinggalkan jejak, om, tapi bukan karena tidak sengaja kemari. Ini kunjungan balasan. Salam
makasih kunjunganya
salam kenal, kunjungan balik. maju terus untuk menulis
trimakasih kunjunganya
Salam kenal. . .nyasar aku nih. . Anterin pulang. .lol
gak bisa antar nih……………
depan lurus nanti belok kanan
jangan lupa kalo lewat bawah pohon besar hati-hati
Hallo salam kenal, dalam kunjungan balik ini. MAAFKAN, baru sempat berkunjung kesini.
Terimakasih sebelumnya sudah berkenan saling berbagi informasi.
aku terlahir untuk bersajak
jumput sisa tantang riak
olah sajikan walau berkerak
karena kata takkan pernah punah dari pijakkan bumi..
salam kenal kembali kawan Winant
salam karya
Lama tak bersua atau sedang tenggelam dalam mimpi yang seakan-akan terwujud namun masih ditelan gersang siang dan malam..atau bahkan sedang merindukan sang Khaliq yang sebenarnya ada namun sulit dirasakan dan di terjemahkan…
mencoba menyususun kembali kekelaman masa lalu
pulang kampung
menelusuri budaya mudik yang kurang asyik
wakakak…………………….
Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sini. Salam kenal Mas.
Bagaimana kalau tukeran Link ?
Terima kasih.
OK kita tukeran link…….
lama gak OL lagi ikutan mudik
assalamu’alaikum
kunjung lagi tapi kuk lum ada artikel….?????lagi mudik kali ya hehehehe
sebelumnya pertama-tama………. minal aidzin wal faidzin ( lum terlambat kan???)hehehe
n
sesudahnya ida tunggu artikel berikutnya….!!!!!! Lanjuttt
wassalamu’alaikum
mau aplod artikel tapi lagi males…..
baru pulang mudik kemaren
salam kenal,saya mau bagi2 ilmu gratis buat sahabat blogger semua,,semoga blog saya bermanfaat,,kunjungi yach
siap bang…..
meluncur ke lokasi
assalmualikum
kunjung lagi nie.wah perkembngan udah diterbitin nie kolomkiri.selamat ….k
enapa gak share difb ato twitt jg..?hehehe
“telah berbelok arah angin muson,telah penat bumi menahan panas yang menyala,dan berubah gradasi warna hijau kehidupan menjadi kelabu dalan kepulan asap pekat……..bumi yang seakan mulai berorasi, menyisipkan makna hidup kepada kita,sebuah balasan tiada ampun…….apakah sebuah doa cukup untuk itu??????”
mungkin ada banyak aspek yang bisa kita lalui untuk memandang bencana yang bertubi-tubi menimpa nusantara, andai benar itu merupakan hukuman mengapa harus pilih kasih dan kawulo alit yang harus dihukum, sedangkan penyumbang dosa yang begitu besar atas kemelorotan moral bangsa malah pada melenggang piknik ke luar negeri.
mungkinkah kita memandangnya sebagai sebuah pembebasan dari kekerdilan pemikiran yang telah kita ikuti, dari iri dengki terhadap kemaksiatan dan legalisasi karena banyak yang melakukan (benere wog akeh)
dan pada akhirnya duka akan berakhir sebuah kebahagiaan, siklus kehancuran telah dilalui dan tidak mungkin tanpa akhir, tsunami Aceh berujung perjanjian damai dari perang yang kejam, letusan merapi berakhir pada kesuburan bumi (sarwo subur kang tinandur, sarwo murah kang tinuku)
dan itu akan tercapai ketika pikiran kita bebas dari endapan kotor, dari perasaan paling benar, dari keinginan menjadi hakim sekaligus jaksa untuk sebuah keyakinan
bencana hukuman
bencana peringatan
bencana ujian
bencana tanda kasih sayang
Salam kenal….!!
Indonesia,,,
tengkyu sudi mampiur ke sini
salam kenal juga
MERDEKA………….
percaya dengan keimanan yang penuh ,bahwa apa yang sedang terjadi bukanlah tanpa makna
dan apa yang tidak terjadi tidaklah selayaknya terjadi.
sebuah kasih sayang yang disuguhkan sedikit berbeda, hal yang lebih berasa,lebih spesial,dan lebih dahsyat hasil akhir yang didapat……yaitu bencana.sebuah tamparan kasih sayang dariNya,membuat semua lebih sedikit ikut bekerja…!!!kalau tidak sekarang kita disapa,kapan lagi kita bisa sadar,kapan lagi kita bisa perbaiki..????maka dari itu…….. kinilah kesabaran itu dipertanyakan.
ya mungkin seperti itu……?????hehehehe maaf sotoy nie ida
Ada kalanya setitik hal sepele adalah pijakan yang kuat dan menjadi pembenar sebuah pemikiran. Akulturasi budaya yang notabene adalah asing kemudian terakomodasi begitu rupa, salah satunya adalah berpikir dan bertindak “instan”. Sesuatu yang lebih menghargai sebuah ujud ketimbang buah pemikiran yang dianggap semu dan tidak berhasil. Materialisme menjadi raja di tengah hamparan padang kehausan meski sebenarnya tersimpan oase sejuk tetapi terlihat hanya sebagai fatamorgana. Sementara tipuan kepraktisan tak lebih terpandang sebagai sesuatu yang mudah dan nikmat.
Salah satu efek dan hasil dari budaya materialisme adalah kecenderungan ingin instan, dalam berbagai macam hal. Mulai dari membangun karir, membangun ekonomi sampai masalah pribadi, semua pada pingin instan. Dan ternyata, budaya instan ini yang, sadar atau tidak sadar, membentuk set mind kita dalam menilai sesuatu ; menganggap semua bencana ini adal reaksi instan Tuhan dari kelakuan minus kita.
Meninggalkan jejak di halaman ini, Semoga sukses selalu…
makasih atas kunjunganya
sukses juga untuk anda
lama gak kunjung nie…! ea ditunggu postingan berikutnya…!
semangattttttt…!