Sajak Kemiskinan

Kontradiksi

Transportasi dan perbedaan

Ketika lembaga yang paling terpercaya di dunia menetapkan daftar negara miskin, kaya, dan berkembang tentunya kita tidak kaget bila negara Indonesia yang kaya raya masuk kategori berkembang. Dengar-dengar kita sebetulnya masuk negara miskin (kata partai sebelah).

”Nggak masalah tho….?”

Yang jadi masalah kalau kembangnya tidak mekar, padahal dari kemarin sudah digadang-gadang jadi kembang janda (kliru ding : janda kembang maksudnya) yang harum semerbak menawan sang kumbang. Sore disiram, dicabuti rumput yang mengganggu. Bukan hanya tak berkembang bahkan layu. Mungkin layu sebelum berkembang (kata sebuah lagu kenangan), tentu ini bukan seperti yang diharapkan, bukan yang diimpikan oleh orang yang sudah kaya sekalipun, meski untuk urusan perut tetap kenyang.

”Oh…! Bungaku tercinta…..!” kalau yamg ini tentunya urusan bunga bank, yang karena inflasi naik turun. Orang yang miskin mungkin lebih tidak peduli, toh mereka tidak terpengaruh ulah monster yang bernama “inflasi”. Paling banter ngurus bank(g) Karman, asal perut kenyang beres urusan.

”Kadang miskin itu nikmat.”

”Miskin kok nikmat..? Laknatt….baru benar!” Tidak perlu uang yang turun nilainya saat harus panen jagung, saat mencabut ketela dari tanah, yang penting diambil, dimasak, matang, dimakan, bebas urusan. Pada akhirnya yang namanya busung lapar, gizi buruk, cacingan, cuma sekedar selingan daripada kenyang mending sekali-kali lapar (sekedar menghibur diri). Bukan sekali-kali tapi sudah berkali-kali, sampai-sampai tidak lagi tahu harus menghitung berapa kali. Sudah berkali-kali lapar tapi masih berani ngomong sekali-kali. Kalu cuma sekedar menghibur diri bukan tidak mungkin yang lain ikut terhibur, tetangga yang sama-sama lapar terhibur, orang kenyang terhibur, pejabat terhibur.

Ini baru berita, seorang anak berusia 7 tahun hanya tingal kulit dan tulang. Karena hiburan bukan ratapan yang keluar dari mulutnya. “Sekali-kali masuk rumah sakit kan tidak apa-apa…” terus mau ngomong apa, sesampainya di depan UGD ada pengumuman “Orang Miskin Dilarang Sakit”.

Tidak sekali-kali ke rumah sakit lagi tentunya, biar modar asal tetap kere. “Siapa yang kere?” Bagaimana mungkin nongkrong di atas mobil, parkir depan rumah sakit, masuk sambil acungkan kartu miskin.

“Lhadalah…!!!”

Lihat saja lebih ke timur, atau tidak perlu jauh-jauh dari ibukota tercinta Jakarta. Ribuan kaum yang mengklaim dirinya miskin berdemo menuntut BLT. Didukung kaum yang mengelompokan diri dalam golongan LSM yang saya sendiri kurang mengerti apa itu LSM, mereka berteriak, memaki, merusak.

“Front Pembela Kaum Miskin” ini baru hebat????

Kembali ke timur, sebuah pulau bernama Papua. Hanya berbalut lembaran kulit pohon, yang pria nampang dengan koteka, anak-anak dengan perut buncit.

“Ini baru miskin…”

“Berapa kali makan sehari?”

“Tidak tentu bapa, itupun kadang kenyang kadang masih lapar,” kalau yang ini makan tidak tentu, kenyang lapar juga tidak tentu.

Tak jauh beda dengan sekelompok pelancong di ibukota, terlunta-lunta di tempat kos, kadang makan kadang tidak. “Jangan lupakan timur…!” Ada yang lebih jelas, di kampung-kampung terpencil di tanah Jawa sekalipun, anak-anak tak kalah kelaparan dengan bocah Papua, pakaian hanya yang menempel di badan. Mengenaskan! Tapi tengoklah apa yang dilakukanya tiap hari, menggembala kambing 30 ekor, ladang milik bapaknya 2 hektar, sapinya 5 ekor. Saat malam datang mereka menggiring ternak ke kandang, mandi di kali yang tercemar tai kebo, tai ayam, tai sapi, tai kambing, tai mereka sendiri tentunya (penuh penyakit). Terus pulang ke rumah makan nasi jagung, lauk sambal, setelah kenyang tidur di atas tikar robek.

“Ini baru miskin..! Ah andainya…, kambing dijual satu, sapi dijual separo (mana mungkin), ladang ditanami jagung bisi 2, bisi 3 atau bisi 10 (ada tidak?). Sekarang kambing, sapi harganya melangit, pagi-pagi sang bapak nongkrong di warung kopi hanya dengan Rp 1000, cukup untuk secangkir. Bayangkan di starbuck di Amerika sana $ 2 baru dapat segelas (bener tidak ya?). Coba kita belikan di warung Yu Paijem, bisa buat mandi mungkin (masak orang miskin mandi pakai kopi, kalau mandi susu pernah dengar)

“Sudah dengar cerita tetangga sebelah?” “Belum…”

“Begini…” sambil menarik nafas dalam.

“Memaki matahari….” (puitis ya) Matahari muncul setiap pagi dari timur, mungkin aku telah tertipu. Kemarin saat habis menenggak segelas arak pagi-pagi matahari muncul dari utara (dasar kampungan satu gelas sudah teler!). Tapi itu sudah lebih baik daripada minum berbotol-botol lebih teler, dunia pemabuk memang aneh (mana ada matahari terbit dari utara). Itulah fakta, kenyataan yang senyata-nyatanya.

“Memang kemarin matahari tidak absen? kok tahu-tahu terbit? Di utara lagi.”

“Cuma segelas arak, bandingkan dengan segepok uang!” Pagi datang kembali, sampai lima menit matahari belum muncul juga, atau mungkin pindah ke selatan, atau kecapekan setelah kemarin seharian melotot. Sepuluh menit, dua puluh menit belum juga muncul. Kata orang ketika di satu sisi malam, di sisi bumi lainya siang. Mungkin di sana ada pesta dan dia diundang? Mungkin suguhanya segelas arak, sebotol, atau bahkan segalon sudah cukup membuatnya teler (betul-betul teler tentunya). Bukan pura-pura teler lantas dibawa ke rumah sakit jantung. Lho apa hubunganya sama rumah sakit jantung?

“Sudah biasa,” diangkut ambulan mewah, sopirnya kelihatan panik, istrinya pura-pura panik. Masak teler harus opname sebulan (ada-ada saja).

“Cepat….., jangan cuma bengong!”

Satpam di depan UGD jadi bingung, lha kemarin masih pidato berapi-api, masih melambai-lambaikan tangan di acara televisi, sekarang di sini. Teler barangkali? (ya jelas)

“Bapak….!” sang istri menangis tersedu. Pagi-pagi suaminya pergi, karena tergesa-gesa sampai lupa minum obat sakit kepala. Yang benar mana, minum arak, teler, sakit jantung, minum obat sakit kepala. Bingung.

“Jangan khawatir mam..!” barangkali ini cuma mimpi.

Iklan

2 Responses to Sajak Kemiskinan

  1. defrimardinsyah says:

    Miskin itu Ujian…
    Kayapun Ujian….

    berjuang menjadi kaya merupakan pilihan..
    Kaya dalam kemiskinan merupakan kutukan… (Miskin hati…)

    Harta tak dibawa mati….
    Kau mati… Istrimu kawin lagi….

    laki-laki lain meniduri kasur mewah yang kau beli…(beserta isinya..)

    Hidup ini perjalanan… nikmati saja… selalu ada hikmahnya.. bagi yang menjalaninya dalam keheningan batin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: