Mengenang Gus Dur

Gus bersama istri tercinta

Mungkin sudah telat, mungkin sudah dilupakan, mungkin sudah basi, mungkin sudah terlalu lama. Tetapi apa-apa yang kami punya, sedangkan tidak ada sedikitnya yang kami miliki. Sejenak kami kenang dalam ingatan, dalam bayangan, dalam selayang mimpi, dan mimpi itu tidak pernah hampiri malam yang kami lalui. Angan terus melayang, mengembara, melewati jalan setapak menembus masa lalu. Dan mimpi itu tak pernah kembali………..

Sekian lama caci maki terngiang di telinga, sekian waktu hujatan datang dan pergi layaknya hujan menghempas bumi, adakah kini tersisa dari rintihan duka, secuil hinaan. Sudah luruh, sudah terlalu kejam penghakiman. Berganti sanjungan, do’a dan ratapan. Tetapi engkau tetap Gus yang kami kenal, bukan karena cemoohan, bukan karena makian.

Selamat jalan Gus…….


Syair Sumbang Buat Gus……


dengar suara serak ini

lantunan bait kesakitan

kumandang kalimat kesepian

alunan keresahan

telah Engkau panggil pulang

dalam suara melodi malam

dalam mimpi tidur panjang

dalam angan lamunan

telah Engkau panggil pulang

hadirkan gaung ketika gerimis sepi

perdengarkan hempasan syair sunyi

lewat bisikan daun kering terjatuh

lewat gesekan biola senja

di sini aku memanggil

tak terdengar suara

di sini aku memohon

tak terdengar do’a

di sini aku sakit tak terdengar rintihan

Tuhan……

telah Engkau panggil pulang

duduk di beranda menatap jauh ke angkasa

Tuhan…..

telah Engkau panggil pulang

aku termenung di depan perapian

panjatkan harapan do’a untuk bapak bangsa

Kabar dari tepi


berjalan lewat teras malam

melangkah di bawah samar tebing

datang menggenggam ambisi

diam menatap keraguan

melangkah menginjak kerikil tajam

berputar mengikuti suara angin

tertindas…

terlempar….

jatuh terkapar

nanar meraih angan

berlari mengejar asap pembakaran

tersandung batu kecongkakan

tersedu….

duduk menunduk

sampaikan….!

kabar mengembara

berita bencana

hentikan semua…!

kabar menari berita berjingkrakan kesetanan

bawakan kepadaku tetesan embun

bukan badai dari gunung menggulung

hembusan angin

bukan auman kabut mencakar

sampaikan…!

kabar berita tentang duka ini

solo, 31 des 2009 (penghujung tahun)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: