Bentrok Lagi…….

Sat Pol PP Pemkot Surakarta dalam Sebuah Upacara

Melihat berita di tv dan membaca warta di koran, tabloid dari kemarin sampai hari ini dengan lengkap dan gamblang tersaji aneka kata, kalimat, paragraf, foto, gambar (yang jelas melukiskan betapa sadisnya kita).

Anggota Sat Pol PP Wanita Pemkot Surakarta

Dan yang jelas kita memang betul-betul sangat amat kejam bin sadis. Terlepas siapa yang memulai, siapa yang memprovokasi, bentrokan bagaimanapun membawa kepada petaka yang tidak mungkin begitu saja terlupa. Dan yang meregang nyawa tentunya tidak mungkin hidup kembali.

Lebih-lebih tv kita dengan leluasa mengumbar tayangan yang begitu vulgar atas nama kebebasan pers, bisa diduga hasilnya : masyarakat kita terpaku di depan tv. Bukan hanya orang tua, anak muda (remaja), anak kecil tidak mau ketinggalan menyaksikan adegan pembantaian.

“Pak teman Budi kemarin berkelahi dihukum Pak Guru, bapak yang di tv itu nanti siapa yang kasih hukuman……???”


Siapa yang Salah?

Setelah korban berjatuhan, setelah terdengar ratapan kesedihan yang ditinggalkan. Aksi saling tuding terus terjadi, menghujat, memaki, atas nama……..? (kira-kira atas nama rakyat-kah?). Komentar miring sampai komentar tidak miring dilontarkan lewat corong tv, koran, majalah, dan kembali atas nama……..?

Jengah juga….., setelah menyaksikan bapak-bapak di Senayan dan para penggede negeri saling adu argumen, adu kepandaian (kelicikan?), rabu kemarin (14/04/2010) kita disuguhi tontonan saling adu kekuatan dan nyali untuk saling mengalahkan (sadis mana?).

Saya bukan pengamat yang mengikuti perkembangan, juga siapa yang salah, tetapi dilihat dari perkembangan seakan-akan kesalahan mutlak dilakukan oleh Sat-Pol PP. Tudingan pelanggaran HAM berat juga tertuju ke institusi ini (dari pengalaman biasanya aparat yang selalu disalahkan). Lantas muncul pertanyaan besar :

“Untuk siapa sebenarnya perlindungan HAM diterapkan………?”

Bisa disaksikan betapa biadabnya Sat-Pol PP melakukan penertiban dan betapa sadisnya orang-orang melakukan pembantaian (3 korban dari Sat-Pol PP). Bukankah mereka juga manusia yang juga harus dilindungi hak-haknya, terutama untuk tetap hidup di negeri ini. Dilabeli apapun yang namanya manusia (entah label Polisi, Tentara, Pol PP) tetap manusia, bukan berarti label mereka menjadikan kita buta hanya karena tingkah laku sebagian dari oknum-oknumnya. Toh tanpa perintah mereka akan tetap duduk manis di ruangan, sambil piket baca koran, atau sekedar sms/telpon anaknya yang belum juga pulang sekolah karena ada jam tambahan dan berjanji menjemputnya selesai dinas.

Tanpa bermaksud membela siapapun, yang jelas tindakan Pol PP dalam rangka melaksanakan keputusan hukum bukan berarti harus selalu menggunakan cara kekerasan. Parahnya masyarakat kita pun suka sekali dengan cara kekerasan. Apakah ini yang namanya krisis kepercayaan? Krisis finansial bisa kita atasi dengan mudah, taruhlah tidak ada dana beli beras makan naso tiwul (nasi dari ketela) tidak masalah. Lha ini krisis kepercayaan.

Seperti tutup ketemu tumbu (tutup sama wadah), yang satu beringas demi hukum, yang satu keras demi mempertahan keyakinan dan penghormatan terhadap leluhur yang jasadnya ada di bumi yang akan digusur (kabarnya yang digusur bukan makam tapi banguna liar di sekitar makam).

Nah lho…….., salah pahamkah?

Saatnya Kembali

Kadang pertanyaan tidak harus dijawab dengan begitu jelas, jawaban tersamar asal kita bisa menerima dan berpikir dengan jelas akan cukup menjadi solusi sebuah pertanyaan/masalah (sanepan orang Jawa bilang).

Penelusuran terhadap akar, batang sampai ranting sebuah masalah mungkin bukan solusi tetapi akan cukup membuat kita untuk urung mengayunkan pedang, berhenti mengumbar dendam, dingin dari api kemarahan. Tentu saja yang paling diharapkan mempertahankan perdamaian (ini yang susah, apalagi ada yang selalu memancing keributan mendalangi kerusuhan).

Masih ingat dalam kenangan bagaimana si Mbah menasehati agar kita selalu rukun dengan semua orang apalagi kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Menjelang tidur kita selalu didongengkan cerita dengan tokoh kejahatan dan kebaikan, tentu saja endingnya adalah kekalahan kejahatan karena kebaikan terus berjuang tanpa berharap uang dan pujian.

“Ah….., mungkin cuma dongeng pengantar mimpi”. Ketika bangun kita telah melupakanya. Apalagi dongeng itu dongeng itu jauh sebelum kita bisa berlari cepat, sebelum kita berambisi memiliki kekuasaan.

Lupakan semua, tentang ambisi, kemarahan, dendam, kekuasaan, kehormatan, kekayaan………………………………….

Saatnya kita kembali, bicara dari hati ke hati dengan kepala dingin, dengan santun meski berseteru, dengan tawa meski kemarahan di ujung kepala.

Kekerasan bukan penyelesaian……………………………………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: