Lebih Baik Berdo’a Daripada Tidak

Angin pun berseru puitis saat malam mulai merambat pagi.  Apakah angin bisa berseru?

Sudah pasti  jawabnya, “Tentu tidak….!”

Maaf bukan maksud hati membajak kata-kata yang dipakai salah satu iklan kesehatan yang sering nongol di tv-tv swasta, justru ini mengingatkan tentang sesuatu yang telah lama kita lupakan. tentu sudah lama sekali tv menyajikan hiburan yang menghibur, hiburan yang bikin tertawa ceria. Sekedar berharap mungkin bukan sesuatu yang haram, toh harapan tidak perlu disidangkan dewan ijtihat untuk mencari hukum halal haramnya.

Puluhan tahun yang lalu, pada masa dulu, jaman ketika belum seramai sekarang…………

“Memangnya sekarang jaman masih ramai?” boleh percaya boleh tidak untuk tidak percaya, intinya keramaian sekarang sudah bisa digambarkan seperti ruwetnya malam oleh rona hitam. Andai kita mencoba mencari sesuatu, katakanlah semodel semut hitam, di tengah malam gelap gulita penuh warna hitam, di atas onggokan batu hitam. Bukan semut yang kita pegang, tetapi harapan keinginan dan bayangan semut yang kita raih. Lebih parah gigitan dari sang semut yang merasa kita sakiti. Mungkin semut punya racun, kalau tidak tentunya akan lebih berbahaya semut yang memiliki susunan sistem pertahanan beracun. Meski tidak berakibat kematian pasti kesakitan akan terasa.

“Jadi ngelantur….” intinya (seperti Pak Ustad mengakhiri pidato).

Perjalanan kita yang diklaim menuju era modern justru menjerumuskan manusia seutuhnya (artinya bukan separuh badan, apalagi separuh nafas) pada lembah hitam.

“Wooooww……..!” sederhananya begini, manusia sekarang merasa telah masuk kategori modern, kategori hebat di mata hati masing-masing tentu saja. Dengan gaya  bahasa dan pakaian yang gaur (coba anak kecil suruh ucapkan “L”), menganggap yang masih berpakaian celana panjang, sering mendengarkan klenengan (musik tradisi Jawa) sebagai manusia batu alias jadul, alias ketinggalan jaman.

“Mulai kebablasan nih…” (kebablasan kira-kira sudah sesuai EYD belum?)

Coba kita melihat ke belakang sebentar (jangan pergi ke toilet lho), maksudnya melihat sejarah bangsa ini. Mulai dari era kejayaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan semua kerajaan di Nusantara yang tidak bisa disebut satui-persatu (awal pidato para pejabat biasanya seperti ini).

Seluruh dunia sudah mahfum tentang kebesaran Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Sailendra atau para tukang bangunan (yang benar yang mana?). Apakah cara berpakaian yang diwariskan dan mungkin hampir sama dengan model kakek buyut dan nenek buyut kita adalah sesuatu yang tertinggal dari peradaban??

“Semoga kita berpikir….” bukan bermaksud menghina, di mata kita mereka terlalu kuno dan tidak ada sisi modern sedikitpun bagi pandangan mata kita. Lantas bagaimana model kita yang pamer mulusnya paha dan montoknya dada di mall-mall, pasar-pasar, pasar super, pasar kecil……..

“Perlahan……., perlahan…….”

“Sudah ada gambaran…?” (coba hentikan membaca!), sekarang kita kembali lagi pada gambaran manusia modern yang mengatakan “teori evolusi” (uiihhh makin modern…).

Jaman dahulu kala (katanya ahli purbakala, tapi tidak usah jauh-jauh berkaca pada masa lalu nanti bisa tersesat) nenek moyang kita adalah manusia bar-bar yang tidak memiliki aturan, kecuali hukum rimba yang berlaku.

“Pertanyaanya………! Bisa disepadankan dengan siapa mbak-mbak, ibu-ibu, tante-tante yang ada di tempat-tempat seperti di atas (males ketik ulang) cara berpakaian mereka?”

Bisa dibayangkan, perjalanan umat manusia setelah sekian juta tahun melewati 99 milyar cobaan, 69 milyar rintangan, 50 milyar penderitaan harus berakhir sia-sia (hitunganya ngawur jangan dijadikan standar, diganti mega triliun juga gak masalah : lisensi gratis tis….. tis…..!)

(Saatnya serius, dari tadi sudah serius tapi masih kurang serius) Bulan Juni  2010 mungkin (semoga : pasti) sejarah mencatat tentang pentingnya sebuah peradaban yang menempatkan kesopanan, kearifan, pengabdian dll (agama) pada posisi yang paling tinggi untuk dipertahankan. Tentu hati kita tidak mengingkari tentang agama yang digerogoti egoisme berbalut modern telah membakar kepercayaan secara perlahan, tentu kita mengakui; hal yang sekecil apapun telah diatur oleh Yang Maha Kuasa lewat ayat-ayat yang diturunkan lewat nabi dan rosul.

Doktrin memisahkan politik dan agama adalah wilayah yang berbeda telah menjerumuskan kita pada tatanan setan (kita sadari, kita akui tetapi kita bahagia masuk ke dalamnya) dan kita jadi pendukung utama keluarnya poitik dari kontrol agama. Maka jadilah kita pembuat aturan yang menguntungkan (tentu saja korupsi itu haram tapi kalau sesuai undang-undang istilahnya bukan korupsi ; proyek mengakali aturan = monyet)

“Peringatan :  Paragraf di atas jangan dibaca, berbahaya………!”

Yang lebih parah adalah atas nama seni (seni peran misalnya ; pasti sudah tahu arah tulisan ini……?)

“Ini dilakukan atas tuntutan peran, sebagai seniman (bisa dibilang aktris/aktor) saya harus menjalankan skenario, ini murni profesionalitas bung…” tapi pernah ada kabar burung (jangan dipercaya) mereka menikmati adegan yang diingankan (katanya tabu ; kecuali atas nama seni). Minggu kemarin, berarti hari-hari terakhir bulan Mei dan hari-hari awal bulan Juni pentas tragedi yang diinginkan marak kembali di negeri kita tercinta ini.

(Cuma bisa geleng-geleng ; tapi suka juga….)

“Sumpah saya cuma menikmatinya dengan mendengar berita dan melihat tv yang gencar menayangkanya, untuk ikut unduh file-nya kayaknya tidak akan!” Teman yang satu ini tegas menolak melihat pentas seni yang paling heboh, dengan melihat katanya sama juga dengan mendukungnya.

Angin pun berseru puitis lagi  saat malam mulai merambat pagi.  Apakah angin bisa berseru?

Sudah pasti  jawabnya, “Tentu tidak….!”

Sekali lagi bukan bermaksud plagiat, membajak ide, tetapi sekedar mengingatkan bahwa di tv kita pernah ada tontonan yang layak ditonton.

Malam menjelang pagi, meski kantuk menyerang begitu hebat tetapi saat tidur telah lewat. Waktunya bagi kita untuk duduk bersimpah berdo’a kepada Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengabulkan, semoga Tuhan menanugerahkan obor yang terang saat bangsa ini mulai sibuk menyiapkan sambutan terhadap jaman yang sudah pasti lebih gelap dari malam.

“Selamat pagi bangsaku………….!!!!”

Iklan

12 Responses to Lebih Baik Berdo’a Daripada Tidak

  1. kolomkiri says:

    woowww…keren, bersimpuh dihadapan Tuhan tanpa adanya Tendensi apapun….

    • winant says:

      kadang kita telah memohon setetes air jernih
      kadang kita telah (merasa mendapatkan) sampai pada air jernih
      tetapi sesungguhnya kita belum menemukan air jernih
      kemudian meminum (comberan) air jernih
      dan kecewa….. (mengumpat)

  2. malam
    blue senang membaca postingan yg menarik ini
    dan blue senang mendapat comand yg baik darimu di rumahnya blue………trims y sahabat
    salam hangat dari blue

    • winant says:

      tenkyu atas kunjunganya
      tulisan ini sekedar ungkapkan lamunan
      dalam kondisi mabuk keadaan (jawa = mendem kahanan) pun harus tetap berusaha mendengar suara suasana

  3. mimpipribumi says:

    setelah berputar-putar, menikung kanan dan kiri menuruni jalanan terjal………………
    pening aku baca tulisan diatas..
    tapi setelah kepalaku membentur tembok….lha dalah
    aku baru bisa menyimpulkan……..ternyata anggota DPR juga pening menangkap kritik yang di tulis….bahkan…..seniman juga mengatakan gak paham dengan skenario yang tertulis…..

    lha kalo gitu siapa yang paham?
    jawabannya dibawa angin lalu…………….

    selamat berkarya Gan dan matur nuwun kunjungannya

  4. wah tulisannya menarik sekali walaupun agak sedikit bingung membacanya…heheheh

    tp tetap dapat juga intinya….

  5. ida says:

    asalamu’alaikum wr.wb

    salam kenal dari pengunjung baru yang tidak sengaja membuka web ini,coz tadi lum dilog out keliatanyya.hehe sempat membaca artikel yang menurut aku menggelitik tapi maknanya dalem banget.hweeeee

    meski artikel yang isinya gak nyampe-nyampe kesimpulan.(lhoh namanya kesimpulan pasti diakhir ya),tapi menghibur banget,yang pasti bermanfaat.

    doa merupakan sebuah harapan ,doa adalah permintaan,dan Sang pemilik dunia itu ada untuk doa kita.maka mengapa kita tidak segera melakukan doa.”apa kita harus menunggu disuruh”padahal kedatangan doa itu tidak pernah dimintaNYA.tapi kedatangannya selalu ditungguNYA untuk dikabulkannya.

    so sampai kapan kita simpan doa ini????

  6. rainbroccoli says:

    Malam Winant…
    Tulisan yang menarik, meskipun untuk mengerti agak sedikit butuh waktu….
    Intinya berdoa itu wajib, karena sebetulnya itu kebutuhan kita sendiri.
    Selama ini Tuhan memberikan kita kebebasan untuk mengatur hidup kita,
    sampai akhirnya kita paham bahwa yang kita butuhkan adalah Dia…

  7. milimeterst says:

    lam kenal… bergan… bredoa… bukan di saat kita susah aja … berdoa.. ya berdoa.. kapan pun di mana pun… kondisi apa pun … hheh .. gitu kali ya …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: