Aku Sakit Jiwa

Musik lembut mengalun dari dalam warung remang di ujung lorong. Nada-nada penyesalan menghentak lembut menembus gerimis bersama asap rokok kretek. Pelan namun pasti semua suara lenyap ditelan kesunyian. Sesekali binatang malam terbang rendah menyambar serangga, lantas melesat menuju kegelapan. Pekat asap knalpot mobil menderu di jalan utama, bergerak mengejar harapan yang terus berlari menuju pagi. Jejak senja masih membekas di trotoar, berjubel dengan bekas tapak kaki tergesa-gesa. Reruntuhan harapan terkapar di beranda ketika senja harus tenggelam di lautan kemurkaan warna malam kelam.

Seperti juga harapanku untuk menjemput impian menjelang tidur. Dan ketika tersadar hari telah terang benderang berhias sinar mentari di pagi hari. Kadang tidak pernah ada keinginan untuk mengakhiri malam tetapi sang gelap harus pergi beristirahat setelah sekian lama melalui perjalanan melelahkan. Ada perasaan menyesal ketika datang keriuhan, lalu lalang manusia mengejar waktu yang terus bergerak tanpa rasa kasihan pada pengemis sekalipun. Mereka berteriak memanggil, menengadahkan tangan memohon belas kasihan. Seorang ayah melotot, memaki anaknya yang dianggap melanggar perintah. Tukang warung marah-marah pada suaminya yang masih molor, padahal seharusnya sudah mengantarkan pesanan pelanggan. Rombongan anak sekolah berkoar-koar membanggakan besarnya uang saku dari meminta ibunya, di perempatan seorang petugas meniup peluit keras-keras mengatur pengendara yang keras kepala dan tidak mau berhenti saat lampu merah.

Hingga siang jalanan terus bergolak layaknya gunung hendak meletus. Anak jalanan beraksi mencuri spion mobil untuk ditukarkan sebungkus makan pagi sekaligus makan siang, itupun kalau beruntung. Lantas senja kembali datang, dan semuanya terdiam tanpa berani protes. Mengapa setiap saat tidak dijadikan siang terus agar tukang becak tetap mengayuh becaknya. Atau tidur mendengkur di bawah pohon cemara, dan dianggap sudah bekerja seharian. Suatu waktu ada yang berteriak memprotes korupsi, mecaci atas nama hukum, memaki atas nama kemanusiaan, merusak atas nama keadilan.

Di hari sabtu yang cerah aku naik bis menuju terminal, pengamen jalanan beraksi memohon recehan. Lebih layak disebut menodong ketimbang meminta. Tampang semrawut, mulut bau alkohol, sedikit teriakan menjadi cara sopan untuk menakuti penumpang. Awak bis hanya bisa menggerutu, sementara penumpang terdiam mengumpat dalam hati. Sumpah serapah tertahan oleh pikiran keselamatan.

bersambung…….

Iklan

2 Responses to Aku Sakit Jiwa

  1. wiangga0409 says:

    wow, percaya tidak.. aku juga sakit jiwa.

    yes, i do.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: