Nasionalisme Tak Bertanggung Jawab

Membeli Kucing

Perskakkan dunia politik di Indonesia yang tercinta (karena saya mencintai Indonesia) terus bergulir, menggelinding memenuhi hasrat kekuasaan mengatur seluruh rangkaian aturan dan praktek bermasyarakat dan tidak lupa masalah hukum. Apalagi hukum kemakmuran yang tidak pernah mencapai kasta “Sebab Akibat”, layak untuk kita bicarakan bersama-sama dalam sebuah forum bermasyarakat, diskusi, seminar, rapat RT untuk forum yang lain sebaiknya jangan disebut, kumpulan mereka sangat tabu untuk sekedar diucapkan tanpa embel-embel “Yang Terthormat”.

Harapan pencapaian  kemakmuran yang merata dengan melewati proses yang diberi label pesta demokrasi  tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Demi tetap tegaknya sebuah periode pemerintah sebagai wakil eksistensi sebuah negara bukan hal yang mahal jika kita harus antri di depan bilik pemilihan. Membuka, melihat, memilih dan memilah ternyata bukanlah hal yang gampang, apalagi jika kita mengingat “Beli Karung Tapi Ada Kucingnya”.

Sudah menjadi rahasia umum, bagi sebuah kalangan penggunaan kata keramat (Atas Nama Rakyat) diobral demi mendapatkan hitungan harga, demi mendapatkan kemakmuran. Tentu saja pencapaian kemakmuran dengan kata keramat ini kita harapkan ada efek bagi lini kehidupan walaupun cuma pada sebuah bidang (per-kenyangan). Sebuah harapan yang tidak terlalu muluk-muluk, sayangnya banyak diantara kita yang memasukan harapan ke dalam karung yang ber-kucing. Prosesnya menjadi lebih sederhana, harapan kita adalah sebuah alasan untuk pembagian kompensasi kesepakatan (suara). Dan bukan hal yang gampang ketika kita hendak mengeluarkan harapan yang telah terbayar dari karung karena sang kucing memendam ketidakrelaan.

Sebuah Pemakluman

Merasakan (yang lainya melihat) kondisi per-kenyangan (diketik samar-samar) yang semakin susah dicapai ditunjang dengan kesemrawutan tatanan lalu-lintas (apa saja) menimbulkan efek domino (lebih bermartabat disebut berantai, domino=judi). Sebuah produk yang dilahirkan dari kelaparan bukan tidak mungkin menjadi produk yang memiliki banyak kelebihan, perlawanan terhadap sistem yang sudah terbangun, ini menjadi bukti dari sebab yang tidak bermutu bisa melahirkan produk unggulan.

Kembali dalam menelaah hukum sebab akibat, seperti mengurai minyak dan air. Begitu mudahnya melihat perbedaan tetapi kesulitan timbul (pemisahan) mana kala kemauan tidak lebih besar pengaruhnya dari pada keengganan, kemalasan, dengan berbagai dalih yang terbangun lewat opini. Perkembangan pendapat tidak pernah seiring dengan fakta dan ke(benar)betulan, muncul disaat-saat periode kritis memuncak. Hasilnya bisa ditebak, bukan lagi tentang kepatutan melainkan legalisasi atas opini bersama. Gelap tetapi diakui khalayak sebagai sesuatu yang terang dan memenuhi syarat mutlak untuk dikategorikan sebagai sesuatu yang harus dimaklumi.

Berangkat dari ranah kesepahaman antara kita dengan pemicu paham, memufakatkan sebuah musyawarah (keputusan) yang tidak pernah kita setujui dan selalu kita setujui menjadi tonggak  kebersamaan yang terbangun dan melibatkan militansi dan kepintaran (licik) para perancangnya.

Jargon-jargon mereka adalah jargon kita meski tidak sedikitpun kita mengerti tentang makna dari sebuah retorika, tidak pernah kita rasakan sejuknya angin yang dijanjikan. Sepaham, sedaerah, sekampung, sudah menjadi kompensasi yang amat sangat menguntungkan untuk kita nikmati. Bagaimanapun  tangan harus berdarah saat dicakar kucing tetap ada rasa rela untuk tetap memasukan harapan pada karung, seolah evolusi yang seharusnya berjalan perlahan telah menenggelamkan kita pada revolusi sebuah hakikat bahwa sang karung (kucing) adalah yang terbaik.

Ketika sebuah kepentingan telah bersinggungan dengan “hajad hidup orang banyak” bukan lagi kekuasaan mendominasi peran bahkan sangat mungkin terjadi kemandulan. Di sini kepentingan orang banyak lebih mudah bermeformosis menjadi kepentingan beberapa orang. Apapun itu, tangan-tangan norma, moral tidak bisa lagi menyentuh karena telah terjadi pergeseran makna dan pemakluman semata.

Ke Mana Kita Melangkah?

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan selalu terngiang di telinga siang malam, pagi sore dan kadang pada saat fajar belum menyingsing. Berdasar permainan yang dihadapi sudah seharusnya sikap kita bukan lagi menuntut perubahan tingkah laku karung (kucing). Dunia perkabaran terlalu jenuh mendengar tuntutan kaum intelektual (menurut klaim mereka) di jalan-jalan protokol, di hari-hari sibuk mengais isi perut atau saat sebuah peristiwa kecil dianggap bisa menjadi alasan tuntutan.

Pergelaran kembali menyajikan kata-kata keramat (Atas Nama Rakyat), pernyataan disimpulkan, tuntutan diperdengarkan, lapangan dipenuhi kata-kata, jalanan dijejali perseteruan. Seharusnya pemikiran jaman batu segera kita karungi dan eksplorasi kita sekian lama bisa melahirkan perubahan. Pertanyaan selanjutnya berapa keuntungan dan kerugian yang menimpa orang-orang yang kita pinjam kepentinganya?

Semuanya akan berujung demi kepentingan rakyat, demi kepentingan negara, demi kepentingan bersama dan yang menjadi puncak adalah demi kepentingan sebuah kepentingan.

Rakyat yang mana……………………?

Iklan

17 Responses to Nasionalisme Tak Bertanggung Jawab

  1. inikah buah dari reformasi…??
    reformasi yang mestinya membenahi persoalan yang tidak benar menjadi benar…, kok kenyataanya seperti ini…., pasti ada yang salah…

    • winant says:

      sistem telah sedemikian rupa kita bangun
      tetapi para pelaksana telah sedemikian rupa mensiasati
      dan kita (rakyat kecil) terbawa arus opini (legalisasi) yang terbangun pelan namun meracuni

  2. kolomkiri says:

    hahaha tanpa sadar kita terbawa….oleh deras arus pekiran pragmatis yang selalu menindas disetiap lini….

  3. julianusginting says:

    reformasi yg sudah salah kaprah…jadinya ya seperti skr ini

    • winant says:

      sayang sekali
      pengetahuan tentang kesalahan yang terjadi tidak diiringi dengan kemampuan memilah
      kemudian tenggelam dalam ke-salah kaprah-an

  4. kolomkiri says:

    Oleh karenanya, perlu direnungkan kembali pemakaian istilah ini terkait dengan kognisi sosial masyarakat kita. Lain dari itu, butuh pula difikirkan bagaimana efek sosial yang mungkin timbul akibat pemilahan dikotomis tersebut di masa-masa yang bakal menjelang

  5. wiangga0409 says:

    obviously, nama rakyat hanya dicatut saja, mas winant.. salam kenal.

  6. Hidup bersama memang sulit, apalagi yang dipikirkan bukan kepentingan bersama. Mereka “yang terhormat” dipercayakan untuk mengawal kehidupan bersama tetapi kenyataannya mengawal kepentingan tertentu yang dibungkus dalam karung dan diberi label mewah [atas nama rakyat]. Rakyat yang namanya menjadi trade mark politik pun lantas kehilangan daya. Entah, tidak tahu atau tidak mau tahu… Entah sadar atau tidak mau sadar… Entahlah… Satu hal yang saya tahu kolomkirinews sedang melakukan penyadaran.

    Hormat beta,

    • winant says:

      trimakasih telah mampir bang

      kebersamaan telah disalah artikan
      lepas dari kepatutan, dari kebenaran, dari keanggunan tapi terlihat lebih patut, lebih benar, dan lebih anggun

  7. Siti Fatimah Ahmad says:

    Assalaamu’alaikum Winant

    Saya berusaha memahami dan meneliti inti pati tulisan saudara, namun masih sulit untuk saya mengertikan mungkin kerana masalah bahasa. walaupun begitu, saya sangat tertarik dengan isu yang dihamparkan iaitu memberi kesedaran kepada pelbagai isu yang melibatkan golongan atasan dan bawahan yang sering mendatangkan ketidak puasan hasil dari aktivitas yang tidak memberi manfaat kepada ummah. semoga ada pembaikan pada masa akan datang dan kehendak rakyat harus didahulukan daripada kehendak peribadi pemimpin.

    Salam mesra dari saya di sarawak, malaysia.

    • winant says:

      walaikum salam
      banyak yang ngomong begitu tentang tulisan saya
      dan sekarang saya berusaha untuk menulis artikel dengan gaya penulisan yang lebih mudah diterima
      (bisa gak ya…..?)
      ketika sudah di depan komputer dan mengetik biasanya mengalir begitu saja sesuai angan-angan

  8. kasminel says:

    Semua atas nama rakyat, semua utk rakyat…itu hy janji saat sblm di pilih, stlh dipilih apa yg tjadi, semua atas nama saya, dan tak ada lg yg mengingt rakyat. Rakyat tetap brjuang mencari keadilan yg semakin jauh dr kenyataan…Pasrah, hy itu yg dpt sy katakan, memberontak..tak mungkin kita hanya rakyat biasa. Keadilan mmg adanya nanti bukan skrg…Slm kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: