Bukan Tikus Biasa

Geger di bumi nusantara yang tergambar dalam gelanggang pertempuran cicak dan buaya sudah tidak menarik perhatian para politisi, kritikus, pengamat intelejen, pengamat kepolisian, pengamat hukum, praktisi hukum dan ahli-ahli lainya untuk angkat bicara.  Semua mendadak sepi seolah tidak pernah terjadi apapun, lakon yang semula seru dan penuh dukungan mendadak sepi tanpa kelanjutan yang berarti ketika sang sutradara mulai kecapekan membuat sensasi. Sekarang sudah jamanya untuk mencapai posisi bukan hanya prestasi yang di cari, popularitas justru lebih penting dan terbukti bisa mendukung memperoleh dukungan.

Sang buaya kini telah kembali menjalani kodratnya berenang di empang, comberan yang kotor dan bau, sementara sang cicak kembali merayap di dinding diam-diam mengincar nyamuk.

Menurut sejarahnya (evolusi apakah benar terjadi?) perkumpulan binatang yang sekarang eksis adalah hasil evolusi sekian juta tahun tapi hanya buaya yang mampu bertahan dengan bentuk aslinya. Betapa hebatnya sang buaya.

Belakangan di Republik tercinta menjadi istilah yang heboh dan menghebohkan semua lini kehidupan. Jangankan sarjana yang baru lulus dengan predikat memuaskan, abang becak yang tidak pernah makan sekolah akan mendiskripsikan dengan lancar siapa buaya dan siapa cicak.

Semua Basi

(Berita basi) tentu saja faktanya seperti ini, perseteruan cicak buaya telah berlangsung dan telah lewat beberapa bulan yang lalu, tapi tidak menjadi keanehan jika orang miskin makan nasi basi, orang kaya membuang uang basi (tidal laku) yang tidak habis karena jumlahnya. Sampai pusing tujuh keliling mau belanja apa lagi, setelah semua terbeli. Dan nasi basi tetap sedap, tetap bikin kenyang, tetap menu utama dan tetap harapan menyambung nyawa.

Setiap mukadimah (biar mantap…..) tentu saja kita  awali dengan penyebutan penguasa alam semesta tentu manusia adalah bagian di dalamnya. Kesadaran menyebutnya tidak seiring kesadaran kita untuk berdiri sejenak dan benar-benar berdiri tegak menghormat pada-Nya, atau pura-pura berdiri tegak dan pura-pura menghormat pada-Nya. Yang penting kelihatanya.

Klaim kita atas Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (kira-kira ini sila berapa?) sekarang juga menjadi penghias dinding berpigura indah. Untuk memasang saja kita butuh tangga yang tinggi, di antara foto penguasa yang bersanding bertengger menjulang. bahkan terlalu tingginya sampai tidak terbaca sama sekali, yang ada hanya penghias dinding yang telah basi.

Dan lain-lain (tidak hafal). Lulus SD nyogok kepala sekolah, lulus SMP dengan predikat amat tidak baik, lulus SMA dengan ancaman membakar sekolah, lulus kuliah dengan predikat kasihan. Mana bisa hafal Pancasila.

Kondisi dan keadaan beriring kesempatan (wuih….) melahirkan peradaban manusia, termasuk di negeri kita yang telah melewati beragam peradaban dengan kemajuan yang bisa diterima dan kemunduran yang sangat bisa diterima (kabarnya dengan pengecualian). Sebuah peradaban yang melahirkan cerita-cerita pembelajaran, dongeng-dongeng penuh sajian petuah, skandal-skandal penuh kepicikan (tapi ratingnya tinggi) dan masih banyak beribu cerita membangun, sejuta kabar meruntuhkan.

Mungkin kita masih ingat tentang skandal cicak buaya (semoga lupa), ramai-ramai para pejabat membuat statemen, LSM mengadakan jumpa pers, komunitas massa memggalang dukungan. Demo menuntut pengusutan di mana-mana, meski tidak tahu apa yang seharusnya di usut, demo menuntut perubahan tapi tidak tahu apa yang ingin dirubah, dan para pendemo pun tidak mau berubah. Sekian hari ketika permusuhan semakin meruncing, untuk menumpulkanya ternyata butuh beberapa menit saja.

Kita melupakanya.

Selesai.

Munculnya Makluk Baru

Siapapun yang malang melintang di dunia kekuasaan tentu sudah paham dengan keinginan dari para penghuni negeri sampai para penggedenya yang gemar membuat perut jadi gendut dan yang tidak dilupakan membuat cerita tidak lucu tapi semua harus tertawa, menulis kisah tidak tragis tapi membuat luntur air mata. Kemudian berlalu begitu saja berghenti tawa dan kering air mata lantas berpindah tontonan kembali tertawa dan kembali menangis (tadi sudah kering air mat, bisa menangis lagi?)

Rakyat di sini sangat menghayati predikatnya sebagai penonton, jadi hanyak berhak menonton, tidak boleh protes dan membuat keributan. Kalau ada yang demo dan protes itu bukan bagian penonton tapi itu adalah tontonan gaya baru setelah drama panjang terlupakan (biar fresh), harapanya mungkin ada bermacam-macam. Berharap itu halal dan tidak ada larangan.

Pasca terlupakanya pertarungan cicak buaya (buaya cicak, sama saja?) muncul ontran-ontran dari golongan penggede. Bukan makhluk asing semacam ETI yang jatuh setelah UFO-nya terserang badai di atas wilayah Indonesia, melainkan makhluk kecil tapi bisa membuat geger dunia pertanian dan dunia lainya (pokoknya semua lini dunia).

Bagi pak tani yang tinggal di sudut republik ini menjadi masalah besar, wereng yang seharusnya di basmi berlaku terbalik, dalam waktu singkat membasmi harapan panen pak tani. Padi menguning dan panen berkarung-karung yang nyata di depan mata ludes tinggal kenangan (bukan lagu). Pak tani bangkit melawan, penanaman palawija menjadi solusi dan wereng pun pergi jauh, terbang melintasi negeri mancari padi. Apa daya sang tikus datang beberapa ekor (bukan masalah), gebuk disiapkan gerakan ditingkatkan, beberapa ekor tikus mati tapi temanya tikus datang bukan lagi beberapa ekor tapi berekor-ekor.

Panen gagal lagi.

Tikus Apa Tikus?

Semua sudah paham tentunya dengan tikus yang satu ini. Tidak makan padi di sawah, tidak makan palawija, tidak menggigit manusia, tapi bisa membuat pak tani semakin terpuruk di pojok karena harus menghadapi tikus yang lebih ganas (dobel tikus).

Menurut istilah, tikus berasal dari dua suku kata (….?)

(Dilanjut…?)

Yang jelas tikus ini sangat cepat terlupakan dan sama sekali tidak populer meski aksinya berakibat begitu buruk terhadap berlangsungnya sebuah tatanan bernegara, tatanan hukum (ini artinya hukum sudah disusun dan disempurnakan/amandemen pasalnya oleh para tikus).

Sudah menjadi rahasia umum, permusuhan sesama tikus juga berawal pada pembagian kue yang tidak sama, yang merasa mendapat bagian sedikit tentu saja akan menciptakan lagu yang sama sekali tidal laku tapi populer (meski cuma sebentar dan akan dilupakan).

Lagi-lagi dilupakan.

Penyakit lupa ingatan telah menyebarr dan disebarkan oleh para tikus, sehingga kita lupa pada tikus telah menjangkiti dengan penyakit lupa. Bukan hanya kita sebagai penonton, para pelaku melodrama tikus-tikus pun akan lupa tentang peranya yang telah men-tikus-kan diri. Lebih parah lagi karena lupa telah digigit meski sampai jempol kaki hampir habis juga telah melupakan gigitan tikus dan memberikan keleluasaan pada tikus untuk kembali menggigit.

Kesimpulan (biar seperti tulisan ilmiah, padahal sama sekali tidak bermutu).

Tikus tahu aksinya diketahui oleh para pemburu tikus tapi pura-pura tidak diketahui. Para pemburu tikus tahu tikus beraksi tapi pura-pura tidak tahu tikus beraksi. Penonton melodrama tikus tahu tikus menggigit dan merasakan sakit, tapi pura-pura tidak tau tikus menggigit jempolnya, dan tikus pun pura-pura tidak tahu aksi menggigit penonton diketahui.

Sebentar saja kisah cicak buaya sudah kita lupakan, gigitan tikus yang masih berdarah telah kita lupakan, serbuan tikus tidak lagi dalam ingatan.

Kita tidak ingat siapa yang telah men-tikus-kan diri, karena tikus bukanlah tikus dan tikus adalah tikus yang sesungguhnya.

Gelap.

Tikus selalu beraksi dan kita selalu lupa.

Iklan

29 Responses to Bukan Tikus Biasa

  1. ane ikut membaca ya….
    mau komentar, tapi ane ga bisa mengolah bahasa yg selevel dengan bahasa anda….. :mrgreen:

  2. Memang gaya bahasanya terlalu rumit, Mas. Butuh konsentrasi penuh untuk membaca artikel ini.
    Negara ini membutuhkan pemburu tikus yang bener-bener ingat bahwa tikus musti diburu, bukan malah dimanjakan.

  3. mimpipribumi says:

    kira-kira ada nggak yang tidak masuk dalam kategoti tikus?
    minimal belum terinfeksi tikus?

    gaya bahasa blog ini memang rumit bagi saya yang tidak pernah belajar sastra

    salam kenal saja Gan……, saya cantumin di blogroll mimpipribumi ya…….
    semoga gak keberatan

    matur nuwun

  4. seto says:

    tetep berharap moga suatu saat bisa jadi lebih baik entah kapan bisa terealisasi
    (nyambung ndak ya ?)

  5. kalabang says:

    Dunia politik dunia yang rumit, gak mudeng aku…

  6. wiangga0409 says:

    mentikuskan diri , kosa kata yang sangat menarik 😉

  7. 'Ne says:

    sayangnya masyarakat kita memang selalu amnesia dengan dosa2 yg dibikin ma tikus2 itu.. dari jaman orba mpe jaman yg katanya reformasi ini sedikit kasus yg terungkap.
    oya ada satu lagi mas, babi belum di tulis tuh kan baru heboh kemaren2 hehe..
    lengkap deh kebon binatang kita 😀

  8. desicandra says:

    Alhamdulillah di rumahku tidak ada tikus, karena ada si kucing yang terus siap berjaga….berjaga, karena tak ingin jatah makannya diembat si tikus, bukan karena kesetiaannya pada majikannya…..tikus dan kucing, sama aja : ternyata berebut jatah ^^

  9. ida says:

    asslamu’alaikum wr.wb
    kunjungan buat kolomkirinews,…
    sebuah paradigma yang menjejak dunia,menghunus tajam dengan laskar aksara.subhanallah(tumbs up buat kolomkirinews).
    meskipun ida sendiri perlu daya eksrta memahaminya,coz tingkat tinggi banget bahasanya hehehehe.

    “semakin gelap dan jungkir balik dunia ini,meski aneh tapi seakan indah.mata tak lagi kasat memandang,bayangan dengan benteng-benteng ramai dibuat,membatas dengan kokohnya.jiwa yang sudah rapuh semakin tersungkur tak berdaya.opera mini sudah dimainkannya(buaya,tikus ataupun cicak hehehe) dan kita adalah penonton setianya,bahkan kita ikut berperan didalamnya sebagai figuran setia,paling setia malah.”segera cari penawar racun tikus nich….!btw ada gak mas???????

    • winant says:

      ada dan telah tersedia dan tetap tersedia tetapi kita mengabaikanya
      penawarnya tertutup gebyarnya dunia
      kita sudah tau, bahkan kita mengaku sebagai penggunanya

      • ida says:

        Bak sebuah tamparan yang membangunkan raga dari tidur lelapnya
        meski perih ,namun lembut terasa.(sedikit ungkapan dari ida untuk artikel2 kolomkirinews)

        yupz benar adanya,sebuah penawar racun yang mulai tawar.racun yang semakin menjalar sampai urat nadi,memegang kendali dalam raga tak bernyawa.bak evolusi tikus biasa menjadi bukan tikus biasa.astaghfirullah…..
        tapi apakah seburuk itu,masih bisakah tikus biasa menjadi seekor kelinci????hehehehe

  10. konekkita says:

    numpang nyimak … dunia politik bikin pusing!

  11. elok langita says:

    pemerintahan indonesia di penuhi sama binatang-binatang iah, sekalian aja di buat kebun binatang..

    moga, adanya inovasi baru dari anak bangsa biar engga tambah suram masalah ini..

    happy blogging aja deh.. 😀

    mkashy buat kunjungan dan komentarnya

  12. Regina says:

    Ehmm politik… Saya belum berkomentar dulu deh. Hehehehe…. 😛

  13. penyakit lupa…

    bahkan tikus itu sendiri lupa kalau dirinya tikus !

  14. sedjatee says:

    menemukan tulisan-tulisan cerdas disini…
    blog yang keren… penulis yang bermutu…
    salam kennal, thanks telah berkunjung
    semoga menjadi persahabatan seterusnya
    sukses selalu..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  15. irvan ardiansyah says:

    wahhh…wahhh..doa in aja y gan moga saya sebagai penerus bangsa ini bisa jadi bibit unggul yg dapat di lindungi oleh kalian semua sehingga tidak rusak dari sifat” tikus…saya akan berjalan di jalan yg lurus.. the next generation..amin..!
    (‘.’~)(~’.’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: