Hua… Ha… Ha… Ha…. Hachi…!!!!

Makin lengkap cerita perjalanan bangsa ini.

Setelah lama tidak ada kabar dari gaung rapat DPR kini muncul kembali peristiwa sensasional yang memang betul-betul menciptakan sensasi tiada duanya. Bisa dibayangkan saat terjadi menenggelamkan segala macam bentuk kehebohan dan gonjang-ganjing di arena pergosipan masyarakat, apalagi ditambah aneka tanggapan mendukung dan menghujat. Semakin terhujat tapi efek depanya makin terkenal. Yang biasanya diam puluhan bahasa akhirnya angkat bicara, bikin komentar, tidak perlu repot, pers sudah datang sendiri membawa daftar pertanyaan dengan jawaban yang sudah disiapkan (baca skrip baru tampil). Bukan tidak mungkin sebuah pertanyaan yang dianggap mengundang polemik akan jadi idola untuk dijawab, dan yang biasa saja dicoret dari daftar.

Ada-ada Saja.

Bukan mungkin lagi. Ini adalah sebuah rancangan untuk menampilkan sebuah cerita bersambung yang sama sekali tidak nyambung, sebuah trilogi yang hanya selesai pada satu seri. Dari jaman baheula (sepatu kuda belum ada, maklum harga kuda mahal) sampai jaman mobil mewah jadi murah meriah, dongeng pengantar bobok di gedung dewan selalu nyaring terdengar. Karena bosan banyak diantara sekian ratus yang hadir tapi juga tidak sedikit yang malas datang, tapi untuk urusan gajian harus selalu datang (bila perlu ditambah).

Saya jadi ingat perkataan seorang teman.

“Anggota dewan juga manusia”, butuh tidur, butuh istirahat dan yang jelas punya nurani yang sebetulnya tahu antara yang buruk dan yang tidak buruk. Hanya ada dua pilihan, dan diharuskan untuk memilih salah satu (sebaiknya jangan salah satu, tapi pilih satu saja). Pilih yang tidak buruk tapi tidak baik atau ambil yang buruk tapi tidak buruk. Sebuah konsekuensi yang didapat sudah terbayang di pelupuk mata, tergambar jelas dalam renungan malam, terbaca aturan dalam setiap lembarnya.

“Godaan itu selalu datang, dan secara nurani kami juga menentangnya”.

Sebuah pernyataan yang membuat kita seharusnya mendukung wakil rakyat untuk terus menjalankan tugasnya (bagaimanapun juga mereka wakil kita – “ingat….. ingat”). Pada akhirnya sebuah proses pasti memiliki akhir dan ujung bahagia atau menyedihkan. Sebuah gambaran kesedihan saat wakil kita duduk manis sambil merokok, ngobrol dengan rekan sebelah, sambil sms, sambil telpon, sambil melamun, sambil berpikir nasib rakyat. Sedih dan sedih, prihatin, waspada terhadap bersliweranya amplop misterius (misalnya).

“Godaan itu selalu datang, dan secara nurani kami juga menentangnya”.

Tanpa keharusan dan mewajibkan, sebuah pilihan ditetapkan juga. Konsekuensinya saat memilih yang tidak buruk tapi tidak baik, memilih yang buruk tapi tidak buruk. Berakhirnya era penentangan nurani dibumbui pengalaman dan keadaan yang dimungkinkan menyebabkan kejadian yang sangat diinginkan. Tentunya kita masih ingat nasehat nenek dari primbon untuk tidak berduaan karena bisa menyebabkan terjadi hal yang tidak diinginkan (tapi mau).

Setelah penelusuran sekian lama, meditasi, bertapa ditempat keramaian, mengamati (hanya melihat sebentar) lahirlah sebuah pertanyaan.

“Kenapa orang takut ditempat gelap?”

“Karena takut digoda setan.”

“Kenapa orang pacaran suka di tempat gelap?”

“Karena sudah kesetanan.”

Salah. Setelah kembali berpikir dan merenung, bermeditasi sambil nonton televisi, bertapa sambil dengarkan berita, akhirnya muncul sebuah jawaban tanpa pertanyaan.

“Setan suka tempat yang terang benderang.”

“Tidak percaya? Sesekali dengarkan berita dan jadilah pengamatnya.”

“Mengamati siapa? Wakil kita?”

“Salah satunya……”

“Yang lainya?”

“Ada……”

Iklan

29 Responses to Hua… Ha… Ha… Ha…. Hachi…!!!!

  1. wiangga0409 says:

    setan suka di tempat terang benderang juga ya.. :))

    pilihan kata mas winant ini memang seringkali mengejutkan. 🙂

    salam.

  2. kolomkiri says:

    wah semakin tenggelam dalam nurani yang dalam yang mengikat,merintih,memekik,angkuh…..kita tinggal menunggu apa kejadian selanjutnya……

  3. semoga aja di bulan Ramadhan nanti setannya dibelenggu..

    n’ setan yang berwujud manusia pada insyaf…

    hehe….^^

  4. aryadevi says:

    ya betul tuh,….ideemm semuanya…sama semuanya…..sepakat semuanya….

  5. sepakat c … tapi di satu sisi yang lain yang menjadi pertanyaan, bila kelak kita berada di posisi mereka, apa kita masih bisa menjaga amanah?

    hmm … terlebih lagi dengan lingkungan yang seperti itu …

    tapi … smoga semua ada hikmahnya …

    ^_^

  6. m4stono says:

    huahahahah tak kiro ora nduwe blog je mbah…..mung numpang lewat nderek langkung buat sesepuh forbud…halah…………….rahayu :mrgreen:

    • winant says:

      lhadalah……
      bergenjang bergenjong waru doyong dienciki uwong kali pepe sapa sing nggawe……

      ini blog cuma sekedar iseng pas nganggur lagi suntuk di tempat kerja

  7. sedjatee says:

    tukang tidur dan tukang bolos itu makin kreatif
    sekarang mengusung ide baru: rumah aspirasi
    setiap anggota dewan dapat dana 112 M, pantaskah?
    salam sukses

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  8. hanyanulis says:

    Kalo mereka memangh seperti itu, yah, saya bisa memakluminya karena hal itu sangat manusiawi, mereka juga manusia biasa juga seperti halnya kita, yang nggak manusiawi cuma gajinya dan tunjangan fasilitasnya….

    • winant says:

      mereka meminta dana sekian milyar untuk menyerap aspirasi
      padahal gaji bulanan mereka karena rakyat menjadikanya tumpuan penyampai aspirasi
      dan aspirasi jelas tidak menginginkan milyaran rupiah sia-sia
      nah lho???

  9. Delia says:

    ehmmmm kalo ngomongin mereka … langsung buat pusing…
    kita harus jauh2 lahh dari setan2 yang nampak itu…

    salam kenal ^_^

  10. intan says:

    setan itu memang susah dimengerti 😀

  11. ida says:

    ha…ha..hachi (alhamdulillha,yarhamukhaallah,yahdikumullah)…..

    ya, itulah datangnya sebuah medium perkembangbiakan penyakit peradapan, terselubung dalam atmosfir yang penuh romantisme masa lalu yang basi.penuh jebakan yang menggelincirkan,membahagiakan meski itu siksaan…..astaghfirullah

    tapi bukankah kilaun syaitan dapat dimusnahkan dengan kacamata hati yang didesain lagsung olehNYA,ya tinggal kita ndiri mau apa tidak memakai nya.itu aja kuk kuncinya.betul gak mas…??????

    • winant says:

      kita sudah memakainya
      kita sudah mengakuinya
      tapi kaca mata itu kita kotori dengan sampah
      kita celupkan ke dalam lumpur
      dan kita tetap merasa kaca mata tetap bening

  12. YUDEX says:

    bulan puasa koq ngomongin setan ya? hahaha..

    maaf telat BW nya om, saya sibuk sekali. 🙂

    salam blogger.

  13. Keping Hidup says:

    Dunia ini panggung sandiwara… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: