Anjing Republik

kini anjing-anjing itu terus menggonggong

terus menyalak……

terus memaki………..

terus mencaci…….

dan ketka angin berhenti

anjing-anjing itu tetap menggonggong

tetap menyalak………

tetap memaki………

tetap mencaci…………

Paijo sedang mengupas singkong bakar yang sedikit gosong di depan rumahnya yang reot, perapian yang tadi berkobar kini telah mati. Setelah semua singkong terkupas Paijo melangkah masuk rumah reot. Angin sore yang datang membelai atap rumah yang terbuat dari alang-alang kering. Tidak ada sekat di dalamnya, antara ruang tamu, ruang tidur, ruang makan dan dapur menjadi satu.

“Inilah istanaku….”, Paijo berguman pelan sambil duduk di atas bangku reot dari bambu apus hasil kebun belakang. Sambil merasakan angin yang bebas keluar masuk lewat celah-celah dinding yang berlobang Paijo membunyikan radio usang yang tidak kalah tua. Radio yang berumur lebh tua dari usianya, warisan dari kakek buyutnya yang bekerja sebagai sinder di perkebunan kompeni. Itu menurut cerita ayahnya setiap menjelang tidur.

Bagimana mungkin Paijo melupakan cerita tentang kakek buyutnya, karena itulah cerita heroik dari leuhur yang seakan menjadi wajib untuk diketahui. Kakek buyut bangun setiap menjelang subuh, setelah sholat subuh di surau dekat rumah dinas segera berangkat ke kebun teriring senyum manis sang istri.

“Ah…….!”

Seekor cicak terjatuh dari dinding rumah yang mulai lapuk, Pajo terkejut dan bangun dari lamunan. “Pasangan yang bahagia…”, gumanya pelan.

“Andai saja….?”

Sebuah penantian yang panjang, kalau saja istrinya ada di rumah tentu tentu tidak akan repot menyiapkan makan sendiri. Tapi nasib embawanya pada ujung yang tidak diinginkan, impian membangun rumah tangga bahagia buyar setelah sekian tahun tetap dalam naungan rumah kecil.

“Yem….., aku tahu kamu juga tahu bahwa memang kemiskinan ini sulit kita elakkan.”

“Lihat saja para penggede itu, mereka datang ke gubuk kita menawarkan gambar aneka warna yang tidak aku mengerti, mereka begitu semangat bicara, begitu semangat menanamkan harapan, bahkan lebih semangat dari aku saat menanam singkong atau jagung di ladang kita yang tidak terlalu luas.”

“Kamu tahu Yem……?” tentu saja tidak, kini kamu telah jauh di negeri seberang, memburu uang yang tidak sama dengan uang di sini. Aku tidak mengerti Yem, bagiku yang penting bisa makan setiap hari sudah beruntung dan anak kita bisa sekolah sudah merupakan anugerah. Bulan kemarin dalam suratnya yang dibacakan tetangga sebelah kamu menulis tidak bisa mengirim uang, katanta baru inflasi da nilai uang di sana turun.

“Aku tidak ngerti Yem.”

Di sini berapapun uang yang aku miliki dari kerja buruh sekalipun cuma sepuluh ribu tidak pernah seperti itu Yem.

Kemarin datang lagi para penggede ke gubuk kita, mereka memintaku tanda tangan. Aku bingung, tidak kenal dengan yang namanya tanda tangan. Jangankan tanda tangan, huruf saja aku tidak tahu.

“Aku memang bodoh Yem…”

Tidak seperti kamu yang lulusan kota, tapi takdir telah mempertemukan kita dalam ikatan, dan aku yang sama sekali tidak tahu-menahu dengan sekolah suatu hari bersanding dengan kamu. Tentunya kamu masih ingat Yem? Saat itu kakek buyutku masih hidup, dan ayah begitu bangga meiliki menantu seperti kamu. Tapi mereka tidak tahu Yem, aku begitu khawatir, begitu resah.

Sama seperti waktu itu Yem. Kini aku juga sangat resah, mereka terus memintaku tanda tangan. Kabrnya seluruh tetangga kita sudah tanda tangan, tinggal aku saja yang belum. Bukan aku tidak mau Yem, tapi aku tidak bisa tanda tangan.

“Yem…., andai kamu ada di sini tentu aku tida perlu merasa khawatir.”

Katanya aku bisa mewakili rakyat miskin untuk menuntut Yem, dari sekian orang kitalah yang paling miskin, tapi aku tidak mengerti kemapa mereka memintaku jadi wakil orang miskin? Aku tidak punya tuntutan dan aku tidak mengerti dengan tuntutan. Nyatanya setiap hari aku merasa bahagia meski miskin. Mungkin saat kangen kamu aku baru merasa kesepian tapi kemiskinan ini tidak membuatku menuntut.

Aku jadi tidak enak Yem. Orang-orang itu begitu baik padaku, sesekali mereka datang dengan membawa biskuit buat anak kita. Rasanya memang enak Yem, bahkan anak kita kemarin rewel minta dibelikan biskuit. Mana mungkin aku bisa Yem, akhirnya ku biarkan menangis. Mungkin karena lelah akhirnya tertidur.

“Yem…. pulanglah. Aku dan anakmu sangat merindukanmu.”

Kemarin orang-orang itu datang lagi, katanya disuruh para penggede dan akhirnya aku cap jempol di selembar kerta.

ATASΒ  NAMA RAKYAT MISKIN

“Itu kata mereka Yem, aku tidak bisa membaca…”

“Yem…..”

“Pulanglah…….!”

Iklan

19 Responses to Anjing Republik

  1. sedjatee says:

    kereeennn…
    sebuah inspirasi dari kehidupan rakyat kecil
    orang pinggiran yang selalu terpedaya
    semoga Tuhan melindungi rakyat jelata seluruhnya
    salam sukses…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  2. wiangga0409 says:

    kesejahteraan rakyat,,
    just like a dream away..

  3. ida says:

    heheheheh artikel yang menggelitik penuh makna……!!!!!!

    itulah medan pertarungan yang sesungguhnya,yang tersuguhkan dibelantara politik,dipanggung budaya,ditengah desingan mesiu,dan diseluruh pojok bumi…

    nuwun.,

  4. muamdisini says:

    ketika slogan rakyat miskin hanya digunakan untuk mencapai sebuah ambisi dan tujuan..
    namun ketika tujuan itu sudah tercapai, kembali rakyat miskin kan dilupakan…

    salam

  5. Ifan Jayadi says:

    Itulah kenyataannya. Kegiatan pembodohan itu terus berlangsung hingga saat ini. Seakan-akan dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat mereka ingin menjadi dewa penyelamat. Tidakkah mereka memiliki hati nurani untuk paling tidak merasa bersalah atas tindakan mereka itu.

  6. Rita Susanti says:

    Ah semoga saja istri Paijo _Yem_, di sana memperoleh apa yang ia cari. Dan setelah itu bisa segera pulang…

  7. Keping Hidup says:

    semoga kita tidak dizalimi juga di negeri sendiri amiin

    • winant says:

      merenungkan kendali negeri yang semakin goncang
      atas nama kebebasan yang semakin kabur
      dan semoga kita tetap teguh tawakal sebagai kawulo alit

  8. ysalma says:

    pemimpin hanya “sadar” kalo begitu banyak Paijo dan Yem saat akan kampanye,, setelah menjabat mereka bilang “cadangan devisa” negara semakin membaik dari tahun ke tahun, jadi ga bakal dengar teriakan kelaparan rakyat kecil..

  9. sempulur says:

    Pejabat lebih asyik berdebat mencari pembenaran diri sendiri, sementara wakil rakyat hanya mampu mewakili rakyatnya untuk memperkaya diri dan keluarganya mas.
    Memperhatikan rakyat miskin hanyalah kebohongan mereka…

  10. antoninilez says:

    judulx sudah menggemparkan…saya merasa seperti bukan sedang di indonesia yg dulunya anti-kiri itu…
    saya seperti di dunia pluralis yg di dalamnya Gus Dur menjadi tokoh bangsa.

    • winant says:

      pluralisme seperti setan bayangan
      pluralisme seperti sebuah lukisan penuh keindahan

      toh semuanya gak bisa lepas dari adat kebiasaan, kadang api kecil bisa menyulut sentimen karena plural
      dan yang sedang dialami bangsa ini adalah seperti minum jamu dari pluralisme, merasa pahit bahkan mbahnya pahit paling pahit
      kecuali kita mau legowo…….

      ujung minum jamu kan sehat
      jika benar-benar minum

      gitu aja kok repot (maaf Gus, pinjam kalimat keramatnya)

  11. edda says:

    hebaaaaaaaat

    keren dah ni artikel πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: