Batik, Nasibmu Kini

Masih ingat dengan batik? Tentunya pertanyaan ini tidak etis dan terkesan menghina, apalagi pertanyaan ini kita tujukan pada orang Indonesia. Hingar bingar pesta perayaan penetapan batik sebagai budaya warisan dunia milik Indonesia tidaklah sesuatu yang seharusnya gampang kita lupakan. Meski yang namanya lupa itu manusiawi bukan berarti ada celah pengampunan (ini cuma sekedar info ; ancaman ini tidak sungguh-sungguh, bisa panjang urusanya kalau sampai terjadi) bagi yang dengan sengaja melupakan batik. Apalagi merelakanya jadi milik negara tetangga.

Bicara klaim dan merasa meiliki atas sebuah produk budaya memang sulit tapi banyak juga sisi yang menarik untuk sekedar kita ketahui dasar kepemilikanya. Demo dan hujatan pernah kita lontarkan pasca pernyataan Malaysia atas beberapa macam budaya yang merasa kita miliki, dan salah satunya adalah batik.

“Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.”

Dua paragraph di atas tentunya sudah mewakili pernyataan tentang batik milik siapa yang sesungguhnya, dan tentu saja kita sebagai bangsa Indonesia akan ngotot untuk mempertahankan batik sebagai milik dan harta bangsa.

Sebuah Pertanyaan (Keraguan)

Batik. Mulai dikenal pada abd XVII, tentu saja ini hanya perkiraan para ahli sejarah yang paling mendekati kebenaran. Pada saat itu mobilitas manusia memang tidak secepat mobilitas jaman sekarang, tetapi tidak berarti perjalanan lintas negara tidak pernah terjadi. Ekspansi Majapahit dengan kekuatan militernya di bawah kepemimpinan Gajah Mada tentu menakutkan bagi raja-raja di wilayah Asia Tenggara. Penaklukan demi penaklukan terus terjadi, tak ayal lagi seluruh kepulauan Nusantara takluk pada kekuasaan Majapahit.

 

Tentu ini akan berimplikasi pada system pemerintahan dan budaya negara taklukan maupun yang menaklukan.

 

Kita bisa berimajinasi pada abad XVII terjadi juga sebuah penaklukan besar, mungkin tidak secara militer. Dan pada saat itu kita ada di bawah kekuasaan Hindia Belanda, sebuah wilayah taklukan yang bertetangga dengan taklukan negara Eropa lainya.

Pemaksaan paham, pembatasan kegiatan politik, pengekangan ekspresi budaya bukanlah sesuatu yang aneh terjadi pada sebuah wilayah jajahan. Yang terjadi kemudian adalah kekacauan system yang telah lama dianut. Pemberontakan terjadi di mana-mana, pembunuhan dengan alasan politis bukanlah sesuatu yang diharamkan apalagi kita adalah manusia dengan klas paling rendah.

 

Banyak kemungkinan dari keberanian untuk melawan, juga tidak menutup kemungkinan ketakutan dan eksodus ke pulau seberang. Di sanalah para pengungsi kemudian membagun komunitas dan membawa pengaruh budayanya. Pada akhirnya anak keturunan mereka yang telah berbaur dengan warga pribumi tetap membawa budaya sebagai symbol-simbol bermasyarakat.

Lantas, salahkah jika mereka mengklaim batik sebagai milik mereka???

Dualisme kepemilkan batik akhirnya terjawab tuntas setelah UNESCO angkat bicara dan menetapkan sebuah keputusan yang sangat ditunggu. Batik adalah milik Indonesia dan siapapun tidak bisa mengganggu gugat.

Batik Akhirnya Milik Siapa?

Pasca penetapan ini seolah menepis keraguan akan sebuah kepemilikan, semua berbatik, semua menampilkan segala sesuatu dengan motif berciri batik. Seragam sekolah, instansi pada hari tertentu mewajibkan pemakaian batik.

“Mewajibkan,” ada sedikit ganjalan dengan kata yang satu ini. Pemakaian batik tidak lebih hanya untuk memeuhi kewajiban dari sebuah perintah yang membawa penekanan sangsi bukan pada kesadaran untuk benar-benar memiliki batik. Para pemakai batik tidak akan pernah bertanya proses menghasilkan batik. Ironisnya mereka lebih berpikir sisi ekonomi, usaha pencapaian kata lestari hanya ditukar dengan batik gratis (seragam kantor biasanya diberikan secara cuma-cuma).

 

Dari sini bisa kita ambil sebuah pelajaran, pengunaan batik tidak lebih dari sebuah kewajiban dan keengganan mengeluarkan biaya ekstra membeli sebuah batik, bukan kesadaran untuk melestarikan.

Produk batik dalam jumlah besar juga menemui masalah tersendiri, permintaan pasar yang melonjak semakin tinggi berbanding terbalik dengan penawaran para produsen (batik banyak dihasilkan oleh industri rumahan). Alhasil hanya pemodal besar yang pada akhirnya tetap eksis pada industri per-batik-kan.

Pandangan remaja kita pada batik tidaklah berbeda dengan pandangan mereka terhadap budaya yang lain. Anggapan kekunoan, cap ketinggalan jaman kerap terlontar bagi orang dalam komunitas mereka.

Dari sini sudah tergambar bagaimana nasib batik pada suatu saat nanti.

Sebuah pertanyaan

Benarkah batik milik kita?

Siapa yang akan melestarikan batik?

Tidak berhakkah orang yang melestarikan batik memilikinya?

Masih relevankah klaim kita atas batik? Sementara kita hanya banggga batik adalah ciptaan leluhur (kebanggaan semu) bukan karena batik harus dilestarikan.

Mengapa tidak kita biarkan mereka yang terus melestarikan dan mencintai batik menjadi pemiliknya?

 

Kita memang lucu dan wagu.

 

Solo, 25 Oktober 2010

Salam budaya

 

Iklan

6 Responses to Batik, Nasibmu Kini

  1. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku :
    http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

  2. Brotoadmojo says:

    saya kadang bingung, pengakuan terhadap bati baru terasa setelah ada klaim dari negara lain, sedangkan dulunya nggak ada greget apa-apa, malahan sekarang ada hari batik segala. lalu apakah ada pengaruhnya hari batik dengan kelestarian/perkembangan batik di indonesia? entahlah…

    • winant says:

      pelestarian batik? hari batik? seperti ceremonial belaka, sekedar formalitas
      pada hari batik diakui sebagai warisan dunia kita beramai-ramai mengenakan kostum batik, media melihat peluang tidak mau ketinggalan, tapi mungkin kita bisa melihat fakta setelah itu.

      inilah kita…..

  3. sarihunhasan says:

    Di negara Malaysia remajanya sangat senang dengan pakain motif batik untuk sehari-hari (kata kakak saya).
    ya kalau orang Indonesia merasa kurang gaul kalo pakai batik, mungkin sudah saatnya kita mengakui batik adalah budaya malaysia, dan mengikhlaskan batik untuk dicintai oleh Malaysia.
    kalau saja batik bisa ngomong… mungkin ia akan lebih senang di Malaysia,… karena dihargai untuk keseharian mereka.

    • winant says:

      kebanggan terhadap batik dan rasa memiliki hanya semu belaka
      ketika batik diakui sebagai warisan dunia, para selebritis, stasiun tv seolah-olah tidak ada pakaian lain yang bisa dikenakan kecuali batik

      tapi apa yang kini kita saksikan???
      batikku sayang
      batikku malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: