Tsunami, Merapi, Lalu Apa Lagi?

Entah karena apa kita berpijak pada tanah yang rawan bencana? Dari dalam bumi mengintip setiap saat, dari samping kanan – kiri, samudera siap melumat. Sebagai kepulauan yang mengapung diatas bara ring Pasifik tentunya kita sudah mahfum harus berintim dengan gunung berapi berbagai perilaku dan bentuk. Dan sebagai kepulauan yang eksis di antara dua samudera bukan hal mustahil ombak besar akan datang saat gejolak dari dalam bumi mengaduk ketenangan gelombang. Tentang bencana yang timbul biarlah para ahlinya yang bicara, toh keadaan akan bertambah ruwet jika kita yang tidak paham sama sekali dengan gempa vulkanik, tentang perilaku Merapi, tentang lempeng Eurasia.

Belum kering ingatan dari deru tsunami Aceh dan sebagian Sumatera, belum berhenti semburan Lapindo, belum berhenti air mata Wasior, duka Mentawai, kini Eyang Petruk (demikian penduduk sekitar menjuluki penguasa ghaib Merapi) membuat gebrakan yang betul-betul menggebrak dan membuat kalang kabut berbagai kalangan. Selasa, 26 Oktober 2010 akan menjadi sejarah yang tidak terlupakan bagi para korban keganasan “Wedus Gembel” Merapi. Korban pun jatuh bergelimpangan di bumi nusantara, setelah sekian kali nestapa dan kita hampir melupakanya. Indonesia kembali berduka.

Berkah – Anugerah (Hukuman)

Banyaknya pulau yang kita miliki menyajikan aneka sumber daya berlebih dan melimpah, luasnya lautan membentang menjadi wilayah kehidupan aneka macam ikan dan kehidupan laut yang tidak ternilai, julukan zamrud khatulistiwa pun di sandang oleh negara yang membentang dari Sabang samapi Merauke.

Menurut data, Indonesia memiliki 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Kapasitas produksinya hingga tahun 2000 baru sekitar 0,48 miliar barrel minyak dan 2,26 triliun TCF. Ini menunjukkan bahwa volume dan kapasitas BBM sebenarnya cukup besar dan  sangat mampu mencukupi kebutuhan rakyat di dalam negeri (Sumber Data ; Walhi, 2004), betapa makmurnya kita.

Minyak mungkin hanya salah satu SDA kita yang besar, dari segi manusia kita juga tidak kalah besarnya, 200 juta lebih manusia yang menghuni Indonesia jelas bukan potensi yang bisa diabaikan. Ironi memang, SDA dan SDM yang begitu besar harus menguap sia-sia. Kemampuan pengelolaan yang menjadi dasar merubah sumber daya menjadi bermanfaat dibiarkan terbengkelai. Atau berhasil dikelola dengan porsi SDM kita terbesar sebagai penonton.

Janji manis dari kilauan emas untuk sebuah kemakmuran menjadi kebanggan semata, dan kita tidak pernah merasakan manisnya kue pembangunan. Pendidikan menjadi barang mahal, sehingga tercipta stigma “Orang Miskin Dilarang sekolah”, apalagi kesehatan yang terasa jauh dari harapan.

Ungakapan “Anak Ayam Mati d Lumbung Padi” tampaknya sangat cocok dengan kondisi kita. Devisa dari kekayan alam menguap begitu saja untuk berbagai kepentingan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Korupsi, kolusi, menggurita dan sudah menjadi bagian tradisi kehidupan bermasyarakat.

Hukuman (Berkah – Anugerah)

Pertanyaanya : kalau ini “sekedar” hukuman, bukankah berarti Tuhan sudah bertindak sporadis dan reaktif ? Ber reaksi ketika terjadi aksi ?

Padahal, jika kita manusia dalam merancang sesuatu, selalu mempertimbangkan aspek jangka pendek, menengah dan panjang, apalagi Yang Maha Kuasa ?

Dalam konteks budaya, mungkin ini salah satu gambaran kecil bagaimana masyarakat kita sudah jauh meninggalkan nilai nilai asli dan budaya serta pribadi Nusantara-nya. Sudah sering dibahas, “marahnya” alam adalah akibat dari tidak bersahabatnya manusia yang tinggal diatasnya dengan alam yang sudah menghidupinya. Budaya asli kita, sebegaimana banyak dari kita tahu, mengajarkan bagaimana hidup yang selaras dengan alam, karena sejatinya manusia diberi kelebihan untuk berhubungan dengan alam dalam tugasnya sebagai pemimpin bagi seluruh alam (khalifah).

Sudah lama kita meninggalkan budaya ini, beralih ke budaya materialisme yang hanya melihat segala sesuatunya hanya sebatas materi dan fisik saja. Dari semua aspek budaya fisik inilah yang kita anut. Dari mulai penebangan liar, pencemaran, penambangan dan bahkan ketika (ngakunya) beribadah saja semua hanya berhenti di aspek fisik dan ritual belaka, tanpa mampu menyentuh esensi spiritual yang sebenarnya, yang sejatinya adalah sesuatu yang sudah diakrabi oleh pendahulu dan leluhur kita yang dulu pernah jaya.

Salah satu efek dan hasil dari budaya materialisme adalah kecenderungan ingin instan, dalam berbagai macam hal. Mulai dari membangun karir, membangun ekonomi sampai masalah pribadi, semua pada pingin instan. Dan ternyata, budaya instan ini yang, sadar atau tidak sadar, membentuk set mind kita dalam menilai sesuatu ; menganggap semua bencana ini adal reaksi instan Tuhan dari kelakuan minus kita.

Ada banyak aspek yang bisa kita lalui untuk memandang bencana yang bertubi-tubi menimpa nusantara, andai benar itu merupakan hukuman mengapa harus pilih kasih dan kawulo alit yang harus dihukum, sedangkan penyumbang dosa yang begitu besar atas kemelorotan moral bangsa melenggang dalam keduniawian.

Mungkinkah kita memandang bencana sebagai sebuah pembebasan dari kekerdilan pemikiran yang telah kita ikuti, dari iri dengki terhadap kemaksiatan dan legalisasi karena banyak yang melakukan (benere wong akeh/benarnya orang banyak). Bagaimana tidak? Kita melakukan sesuatu lepas dari patokan yang seharusnya dan berpegang pada standar baru yang tercipta oleh degradasi budaya moral (trend). Dengan bergolaknya samudera dan berguncangnya gunung dimungkinkan sebuah proses penyadaran dari tidur di atas nina bobo panjang.

Dan pada akhirnya Tuhan tidak akan membiarkan umatnya tetap tenggelam dalam duka meski sudah berulang kali kesadari yang telah terbangun terlena oleh gemerlap keteraturan pemenuhan keinginan. Siklus kehancuran telah dilalui dan tidak mungkin tanpa akhir, tsunami Aceh berujung perjanjian damai dari perang yang kejam, letusan merapi berakhir pada kesuburan bumi (sarwo subur kang tinandur, sarwo murah kang tinuku).

Dari sini mungkin kita bisa berpikir, bertingkah dan melangkah bukan berdasar dendam, ketika pikiran kita bebas dari endapan kotor, dari perasaan paling benar, dari keinginan menjadi hakim sekaligus jaksa untuk sebuah keyakinan. Persepsi pasti akan berbeda

Bencana hukuman.
Bencana peringatan.
Bencana ujian.
Bencana tanda kasih sayang.

Wallahualam….

Iklan

18 Responses to Tsunami, Merapi, Lalu Apa Lagi?

  1. kolomkiri says:

    Baca renungan Lir…ILir…….

  2. Brotoadmojo says:

    Mungkin juga ini adalah peringatan dari Tuhan. Yang terpenting sekarang adalah interospeksi diri, mari kita koreksi diri kita masing-masing, dan mengambil hikmah serta belajar pada setiap peristiwa yang terjadi. Mari kita do’akan semoga saudara-saudara kita yang tertimpa bencana diberi kekuatan dan kesabaran.

    • winant says:

      kesabaran, menerima dan tetap bersyukur apapun kondisinya
      jangan sampai ketika ada musibah kita memujanya, memohon pertolongan
      tapi ketika kenikmatan datang kita tenggelam

      semoga bangsa Indonesia senantiasa diberi ketabahan

  3. Pendapat pribadiku ini tepat. Mana mungkin seorang penjahat atau seorang koruptor dapat musibah semacam ini. Karena ALLAh pernah menjanjikan bila orang terkena atau ditimpa musibah lebih banyak masuk sorga. Yang ada para penjahat atau koruptor dapat teguran atau azab yang biasanya ditanggung adan ditimpakan padanya seorang diri. Sory bos, bila melenceng, maklum pendapat pribadi, heheheheh

    • winant says:

      bencana bisa kita lihat dari sudut pandang berbeda
      kadang saya juga berpikir tidak mungkin bencana terjadi begitu saja serta pastri ada konskuensinya
      ketabahan untuk korban, kesabaran, semakin dekat dengan Sang Khaliq
      dan beberapa pandangan berbeda bagi yang lain

  4. sedjatee says:

    kita selalu berdoa kepada Tuhan
    semoga ini menjadi bencana terakhir
    tak ada lagi kemurkaan alam yg menimbulkan korban
    cukuplah penderitaan sampai disini

    tetapi sepertinya kita belum begitu arif kepada alam
    kita terkadang selalu bertindak sebagai perusak
    kita lupa bahwa alam perlu dipergauli secara santun
    semoga ke depan kita bisa lebih bijaksana

    salam sukses..

    sedj

    • winant says:

      dan do’a kita saat alam meradang
      dan kita seenaknya saat alam bisa dimanfaatkan
      saya juga berharap kita sadar bahwa alam aadalah mitra
      bukan obyek yang dimanfaatkan belaka

  5. achoey says:

    Moga yang tertimpa bencana diberikan kekuatan bersabar yang besar oleh Allah
    Mari kita bantu sesama saudara kita

  6. Apakabar sahabat? maaf saya lama tidak berkunjung kesini.
    semoga persahabatan tetap terjalin.

    salam persahabatan… 🙂

  7. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang menimpa negeri ini,,,,,

  8. catatanketuk says:

    semoga bencana tidak lagi terjadi bro

  9. faruq says:

    sebuah peringatan,,.
    sebagai makhluk,.. harus memperhatikan itu,..

  10. Allah mengajarkan kita dengan cara-caranya yang unik, termasuk bencana
    Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap musibah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: