Anjing Republik

kini anjing-anjing itu terus menggonggong

terus menyalak……

terus memaki………..

terus mencaci…….

dan ketka angin berhenti

anjing-anjing itu tetap menggonggong
Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Aku Jatuh Cinta

“Man, Min, Mun…….!”, sudah terlalu lama peristiwa itu berlalu. Bulan puasa telah datang lagi, antara harapan dan keenganan aku melangkah di teras toko makanan khas Solo. Sudah kesekian kali jalan ini ku lewati, entah berapa kali aku tidak pernah menghitungnya. Lengang dan kadang terlalu ramai untuk sekedar merenungi nasib, terlalu berjubel, terlalu keras suara-suara menawarkan penganan menjelang berbuka. Dalam sisa-sisa panas mentari yang memanggang aku terus melangkah, berusaha tidak peduli pada keramaian yang semakin ramai.

“Ah……, masih terlalu jauh Man, Min, Mun!”

Dari kemarin bukan selalu ini yang terjadi. Sebuah pertanyaan, bukan harapan? Lihat saja pertaruhan setiap hari di depan pasar makanan, di lorong-lorong penawaran, di gang-gang kesepakatan. Satu orang, dua orang, tiga orang, banyak orang bersiap-siap, berdo’a agar bangun sebelum imsyak berkumandang dan berharap bisa kenyang untuk bersiap menyambut fajar sampai adzan magrib menyapa.

Baca pos ini lebih lanjut

Aku Sakit Jiwa

Musik lembut mengalun dari dalam warung remang di ujung lorong. Nada-nada penyesalan menghentak lembut menembus gerimis bersama asap rokok kretek. Pelan namun pasti semua suara lenyap ditelan kesunyian. Sesekali binatang malam terbang rendah menyambar serangga, lantas melesat menuju kegelapan. Pekat asap knalpot mobil menderu di jalan utama, bergerak mengejar harapan yang terus berlari menuju pagi. Jejak senja masih membekas di trotoar, berjubel dengan bekas tapak kaki tergesa-gesa. Reruntuhan harapan terkapar di beranda ketika senja harus tenggelam di lautan kemurkaan warna malam kelam.

Baca pos ini lebih lanjut