Tsunami, Merapi, Lalu Apa Lagi?

Entah karena apa kita berpijak pada tanah yang rawan bencana? Dari dalam bumi mengintip setiap saat, dari samping kanan – kiri, samudera siap melumat. Sebagai kepulauan yang mengapung diatas bara ring Pasifik tentunya kita sudah mahfum harus berintim dengan gunung berapi berbagai perilaku dan bentuk. Dan sebagai kepulauan yang eksis di antara dua samudera bukan hal mustahil ombak besar akan datang saat gejolak dari dalam bumi mengaduk ketenangan gelombang. Tentang bencana yang timbul biarlah para ahlinya yang bicara, toh keadaan akan bertambah ruwet jika kita yang tidak paham sama sekali dengan gempa vulkanik, tentang perilaku Merapi, tentang lempeng Eurasia.

Belum kering ingatan dari deru tsunami Aceh dan sebagian Sumatera, belum berhenti semburan Lapindo, belum berhenti air mata Wasior, duka Mentawai, kini Eyang Petruk (demikian penduduk sekitar menjuluki penguasa ghaib Merapi) membuat gebrakan yang betul-betul menggebrak dan membuat kalang kabut berbagai kalangan. Baca pos ini lebih lanjut

Bentrok Lagi…….

Sat Pol PP Pemkot Surakarta dalam Sebuah Upacara

Melihat berita di tv dan membaca warta di koran, tabloid dari kemarin sampai hari ini dengan lengkap dan gamblang tersaji aneka kata, kalimat, paragraf, foto, gambar (yang jelas melukiskan betapa sadisnya kita).

Anggota Sat Pol PP Wanita Pemkot Surakarta

Dan yang jelas kita memang betul-betul sangat amat kejam bin sadis. Terlepas siapa yang memulai, siapa yang memprovokasi, bentrokan bagaimanapun membawa kepada petaka yang tidak mungkin begitu saja terlupa. Dan yang meregang nyawa tentunya tidak mungkin hidup kembali.

Lebih-lebih tv kita dengan leluasa mengumbar tayangan yang begitu vulgar atas nama kebebasan pers, bisa diduga hasilnya : masyarakat kita terpaku di depan tv. Bukan hanya orang tua, anak muda (remaja), anak kecil tidak mau ketinggalan menyaksikan adegan pembantaian.

“Pak teman Budi kemarin berkelahi dihukum Pak Guru, bapak yang di tv itu nanti siapa yang kasih hukuman……???”

Baca pos ini lebih lanjut