Hua… Ha… Ha… Ha…. Hachi…!!!!

Makin lengkap cerita perjalanan bangsa ini.

Setelah lama tidak ada kabar dari gaung rapat DPR kini muncul kembali peristiwa sensasional yang memang betul-betul menciptakan sensasi tiada duanya. Bisa dibayangkan saat terjadi menenggelamkan segala macam bentuk kehebohan dan gonjang-ganjing di arena pergosipan masyarakat, apalagi ditambah aneka tanggapan mendukung dan menghujat. Semakin terhujat tapi efek depanya makin terkenal. Yang biasanya diam puluhan bahasa akhirnya angkat bicara, bikin komentar, tidak perlu repot, pers sudah datang sendiri membawa daftar pertanyaan dengan jawaban yang sudah disiapkan (baca skrip baru tampil). Bukan tidak mungkin sebuah pertanyaan yang dianggap mengundang polemik akan jadi idola untuk dijawab, dan yang biasa saja dicoret dari daftar.

Baca pos ini lebih lanjut

Bukan Tikus Biasa

Geger di bumi nusantara yang tergambar dalam gelanggang pertempuran cicak dan buaya sudah tidak menarik perhatian para politisi, kritikus, pengamat intelejen, pengamat kepolisian, pengamat hukum, praktisi hukum dan ahli-ahli lainya untuk angkat bicara.  Semua mendadak sepi seolah tidak pernah terjadi apapun, lakon yang semula seru dan penuh dukungan mendadak sepi tanpa kelanjutan yang berarti ketika sang sutradara mulai kecapekan membuat sensasi. Sekarang sudah jamanya untuk mencapai posisi bukan hanya prestasi yang di cari, popularitas justru lebih penting dan terbukti bisa mendukung memperoleh dukungan.

Sang buaya kini telah kembali menjalani kodratnya berenang di empang, comberan yang kotor dan bau, sementara sang cicak kembali merayap di dinding diam-diam mengincar nyamuk.

Menurut sejarahnya (evolusi apakah benar terjadi?) perkumpulan binatang yang sekarang eksis adalah hasil evolusi sekian juta tahun tapi hanya buaya yang mampu bertahan dengan bentuk aslinya. Betapa hebatnya sang buaya.

Baca pos ini lebih lanjut

Nasionalisme Tak Bertanggung Jawab

Membeli Kucing

Perskakkan dunia politik di Indonesia yang tercinta (karena saya mencintai Indonesia) terus bergulir, menggelinding memenuhi hasrat kekuasaan mengatur seluruh rangkaian aturan dan praktek bermasyarakat dan tidak lupa masalah hukum. Apalagi hukum kemakmuran yang tidak pernah mencapai kasta “Sebab Akibat”, layak untuk kita bicarakan bersama-sama dalam sebuah forum bermasyarakat, diskusi, seminar, rapat RT untuk forum yang lain sebaiknya jangan disebut, kumpulan mereka sangat tabu untuk sekedar diucapkan tanpa embel-embel “Yang Terthormat”.

Harapan pencapaian  kemakmuran yang merata dengan melewati proses yang diberi label pesta demokrasi  tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Demi tetap tegaknya sebuah periode pemerintah sebagai wakil eksistensi sebuah negara bukan hal yang mahal jika kita harus antri di depan bilik pemilihan. Membuka, melihat, memilih dan memilah ternyata bukanlah hal yang gampang, apalagi jika kita mengingat “Beli Karung Tapi Ada Kucingnya”.

Baca pos ini lebih lanjut

Demokrasi Anjing

Rasanya dunia makin gelap saja, bukan karena mentari marah lalu enggan melaksanakan tugas rutin, bukan karena bulan tertutup mendung (Kata nenek bulan lagi ngambil minyak yang hampir habis, itu dulu…..! Sekarang mungkin bulan kehabisan gas LPG?). Bukan karena anjing tetangga yang suka berak di depan rumah kembali beraksi, untuk yang ini tentunya tidak semua berharap. Meski sama-sama binatang tentu ada persamaan dan perbedaan tapi demokrasi toh selalu mengakomodasi. Bisa gila..! Tai kambing berceceran di belakang rumah bukan masalah, justru akan jadi pupuk kompos (menurut pak tani) (tai anjing…?).

Suka atau tidak, mau maupun tidak mau, kenikmatan dari aroma tai anjing tentu saja menyebar bagai berita yang dikabarkan surat kabar tentu saja dengan aneka bumbu komentar, aneka penyedap yang membuat makin sedap didengar tapi makin tidak sedap dirasakan. Apalagi ini tai anjing milik tetangga yang tidak pernah rukun (makin bau tentu saja), efeknya tentu berbeda dengan tai anjing milik Pak Lurah yang sering berkunjung (bukan rasialis lho).

Baca pos ini lebih lanjut

Bajingan Kecil

Serentak seluruh pelosok berteriak. Hidup partai ini, hidup partai itu, hidup partai anu, hidup partai ini itu. Demokrasi. Enak dimakan? Seandainya seluruh penduduk negri kelaparan taruhlah beberapa piring demokrasi di meja makan, undang seluruh tetangga kanan – kiri (pejabatnya jangan) sebelum makan berdo’a bersama-sama, sebelum do’a selesai pasti sudah habis semua menu (makanan), sayangnya demokrasi tidak bisa dicerna perut kita.

Berbeda dengan nasi yang jadi santapan setiap hari, sebanyak apapun makanan yang ada, sampai perut penuh. Tidak ada istilah ”makan”, kecuali sepiring nasi (ini baru makan).

Lain lagi jika yang menyajikan partai ini, dibumbui sedikit garam janji, merica harapan, sebotol sambal militansi. Lauk hasil mancing keributan, di selingi tontonan dengan ki dalang kerusuhan

”Mantab’….! Mantab’……!” Baca pos ini lebih lanjut