Fajar Di Sini

Mencoba untuk melompat bukan hanya sekedar bangkit

Mencoba untuk melompat bukan hanya sekedar bangkit

Akhirnya……….

Mungkin hanya itu kata yang tepat

Mungkin itu juga kata yang menyimpang dari kelaziman, andai mungkin tidak lazim, mungkin memang benar-benar terlalu tidak lazim. Toh semua selalu berawal dari awal, dari angka nol kemudian satu dan mungkin akan kembali ke angka satu, dan selalu kembali ke angka nol.

Tetapi bukankah semua pasti ada akhirnya?

Dan itu pasti, bukan sebuah pertayaan, pasti ada akhirnya, dan pasti berakhir. Dan kemungkinan tenggelam, karena pasti berakhir.

Jika memang akhir adalah awal maka tidak ada salahnya memulai sesuatu yang baru dan benar-benar baru

Mungkin segalanya ada kemungkinan yang dimungkinkan

Dan ini mungkin awal kebangkian dari keterpurukan setelah sekian lama. Mungkin baru kemarin terpuruk tapi mungkin sudah begitu lama terpuruk hingga lupa kapan pasti waktunya terpuruk……

Biarlah……, ini menjadi awal kebangkitan dari keterpurukan, sementara aku tidak bisa mendiskripsikan keterpurukan itu sendiri meskipun aku merasa terpuruk. Mungkin sekali lagi mungkin saya hanya merasa terpuruk tapi tidak benar-benar terpuruk…..

Selamat siang semua….

Selamat Ulang Tahun (Puisi Tai)

jika bahasa ini kasar

jika ini cacian

jika ini makian

lembutkah teriakan di jalanan?

indahkah nyanyian dari mimbar?

melo-kah makian pada setiap tuntutan?

makan janji seperti makan tai
Baca pos ini lebih lanjut

Lebih Baik Berdo’a Daripada Tidak / 2

Kepada

Sahabat

di Kejauhan

Sobat….

Malam semakin larut saat aku menginjakan kaki di pelataran harapan, sebuah harapan besar dalam do’a dan mimpi. Meski angin terus berkutat di atas genting rumah aku terus melangkah tanpa merasa peduli, tanpa merasa terbebani dari dosa yang telah terjadi setiap hari. Malam selalu menyapa dengan perasaan dingin dan tanpa senyum, seperti kemarin malam juga datang begitu saja tanpa mengucapkan salam, selain sebuah penyesalan karena datang sedikit terlambat dari jadwal.

Baca pos ini lebih lanjut

Puisi (Sakit) Jiwa 2

Syair Sumbang Buat Bunda

dengar suara serak ini
lantunan bait kesakitan
kumandang kalimat kesepian
alunan keresahan

panggil aku pulang
dalam suara melodi malam
dalam mimpi tidur siang
dalam angan lamunan
Baca pos ini lebih lanjut

Puisi (Sakit) Jiwa

Senja Pengasingan

awan merah bertaruh dengan warnanya
meyusuri samar lentera malam
rumput menunduk berdo’a memohon
angin berhenti menarik nafas

luruh warna mentari berpijak di ujung daun
menari gemulai gambarkan kegalauan
daun jatuh membawa keresahan
lelah jiwa berpijak bumi
Baca pos ini lebih lanjut

Mengenang Gus Dur

Gus bersama istri tercinta

Mungkin sudah telat, mungkin sudah dilupakan, mungkin sudah basi, mungkin sudah terlalu lama. Tetapi apa-apa yang kami punya, sedangkan tidak ada sedikitnya yang kami miliki. Sejenak kami kenang dalam ingatan, dalam bayangan, dalam selayang mimpi, dan mimpi itu tidak pernah hampiri malam yang kami lalui. Angan terus melayang, mengembara, melewati jalan setapak menembus masa lalu. Dan mimpi itu tak pernah kembali………..

Sekian lama caci maki terngiang di telinga, sekian waktu hujatan datang dan pergi layaknya hujan menghempas bumi, adakah kini tersisa dari rintihan duka, secuil hinaan. Sudah luruh, sudah terlalu kejam penghakiman. Berganti sanjungan, do’a dan ratapan. Tetapi engkau tetap Gus yang kami kenal, bukan karena cemoohan, bukan karena makian.

Selamat jalan Gus…….

Baca pos ini lebih lanjut

Sajak Kemiskinan

Kami yang tersingkir

Ketika malam kian larut, angin berhembus perlahan takut membuat gaduh dan membangunkan orang sekampung. Di balik awan, bintang mencoba berkedip membawa obor penerangan redup, sontak deru fajar menghentak hamburkan kabar perhelatan besar, pesta pora di antara reruntuhan rumah-rumah kesedihan, di atas tumpukan duka berkarat. Ada teriakan, makian, cacian saling bersahutan, saling berharap menjadi suara penghias kelam.

Dari gundukan sampah mengalir lagu ratapan, alunkan musik-musik kemiskinan, keserakahan, penghianatan, pemberangusan atas nama cinta, atas nama kasih aturan undang-undang, atas nama sayang perompakan, pembajakan. Seutas senyum menyayat dari bibir sang terdakwa, sekelebat canda bersama gebyar lambaian narapidana.

Baca pos ini lebih lanjut