Aku Jatuh Cinta

“Man, Min, Mun…….!”, sudah terlalu lama peristiwa itu berlalu. Bulan puasa telah datang lagi, antara harapan dan keenganan aku melangkah di teras toko makanan khas Solo. Sudah kesekian kali jalan ini ku lewati, entah berapa kali aku tidak pernah menghitungnya. Lengang dan kadang terlalu ramai untuk sekedar merenungi nasib, terlalu berjubel, terlalu keras suara-suara menawarkan penganan menjelang berbuka. Dalam sisa-sisa panas mentari yang memanggang aku terus melangkah, berusaha tidak peduli pada keramaian yang semakin ramai.

“Ah……, masih terlalu jauh Man, Min, Mun!”

Dari kemarin bukan selalu ini yang terjadi. Sebuah pertanyaan, bukan harapan? Lihat saja pertaruhan setiap hari di depan pasar makanan, di lorong-lorong penawaran, di gang-gang kesepakatan. Satu orang, dua orang, tiga orang, banyak orang bersiap-siap, berdo’a agar bangun sebelum imsyak berkumandang dan berharap bisa kenyang untuk bersiap menyambut fajar sampai adzan magrib menyapa.

Baca pos ini lebih lanjut

Hua… Ha… Ha… Ha…. Hachi…!!!!

Makin lengkap cerita perjalanan bangsa ini.

Setelah lama tidak ada kabar dari gaung rapat DPR kini muncul kembali peristiwa sensasional yang memang betul-betul menciptakan sensasi tiada duanya. Bisa dibayangkan saat terjadi menenggelamkan segala macam bentuk kehebohan dan gonjang-ganjing di arena pergosipan masyarakat, apalagi ditambah aneka tanggapan mendukung dan menghujat. Semakin terhujat tapi efek depanya makin terkenal. Yang biasanya diam puluhan bahasa akhirnya angkat bicara, bikin komentar, tidak perlu repot, pers sudah datang sendiri membawa daftar pertanyaan dengan jawaban yang sudah disiapkan (baca skrip baru tampil). Bukan tidak mungkin sebuah pertanyaan yang dianggap mengundang polemik akan jadi idola untuk dijawab, dan yang biasa saja dicoret dari daftar.

Baca pos ini lebih lanjut

Lebih Baik Berdo’a Daripada Tidak / 2

Kepada

Sahabat

di Kejauhan

Sobat….

Malam semakin larut saat aku menginjakan kaki di pelataran harapan, sebuah harapan besar dalam do’a dan mimpi. Meski angin terus berkutat di atas genting rumah aku terus melangkah tanpa merasa peduli, tanpa merasa terbebani dari dosa yang telah terjadi setiap hari. Malam selalu menyapa dengan perasaan dingin dan tanpa senyum, seperti kemarin malam juga datang begitu saja tanpa mengucapkan salam, selain sebuah penyesalan karena datang sedikit terlambat dari jadwal.

Baca pos ini lebih lanjut

Bukan Tikus Biasa

Geger di bumi nusantara yang tergambar dalam gelanggang pertempuran cicak dan buaya sudah tidak menarik perhatian para politisi, kritikus, pengamat intelejen, pengamat kepolisian, pengamat hukum, praktisi hukum dan ahli-ahli lainya untuk angkat bicara.  Semua mendadak sepi seolah tidak pernah terjadi apapun, lakon yang semula seru dan penuh dukungan mendadak sepi tanpa kelanjutan yang berarti ketika sang sutradara mulai kecapekan membuat sensasi. Sekarang sudah jamanya untuk mencapai posisi bukan hanya prestasi yang di cari, popularitas justru lebih penting dan terbukti bisa mendukung memperoleh dukungan.

Sang buaya kini telah kembali menjalani kodratnya berenang di empang, comberan yang kotor dan bau, sementara sang cicak kembali merayap di dinding diam-diam mengincar nyamuk.

Menurut sejarahnya (evolusi apakah benar terjadi?) perkumpulan binatang yang sekarang eksis adalah hasil evolusi sekian juta tahun tapi hanya buaya yang mampu bertahan dengan bentuk aslinya. Betapa hebatnya sang buaya.

Baca pos ini lebih lanjut

Nasionalisme Tak Bertanggung Jawab

Membeli Kucing

Perskakkan dunia politik di Indonesia yang tercinta (karena saya mencintai Indonesia) terus bergulir, menggelinding memenuhi hasrat kekuasaan mengatur seluruh rangkaian aturan dan praktek bermasyarakat dan tidak lupa masalah hukum. Apalagi hukum kemakmuran yang tidak pernah mencapai kasta “Sebab Akibat”, layak untuk kita bicarakan bersama-sama dalam sebuah forum bermasyarakat, diskusi, seminar, rapat RT untuk forum yang lain sebaiknya jangan disebut, kumpulan mereka sangat tabu untuk sekedar diucapkan tanpa embel-embel “Yang Terthormat”.

Harapan pencapaian  kemakmuran yang merata dengan melewati proses yang diberi label pesta demokrasi  tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Demi tetap tegaknya sebuah periode pemerintah sebagai wakil eksistensi sebuah negara bukan hal yang mahal jika kita harus antri di depan bilik pemilihan. Membuka, melihat, memilih dan memilah ternyata bukanlah hal yang gampang, apalagi jika kita mengingat “Beli Karung Tapi Ada Kucingnya”.

Baca pos ini lebih lanjut

Demokrasi Anjing

Rasanya dunia makin gelap saja, bukan karena mentari marah lalu enggan melaksanakan tugas rutin, bukan karena bulan tertutup mendung (Kata nenek bulan lagi ngambil minyak yang hampir habis, itu dulu…..! Sekarang mungkin bulan kehabisan gas LPG?). Bukan karena anjing tetangga yang suka berak di depan rumah kembali beraksi, untuk yang ini tentunya tidak semua berharap. Meski sama-sama binatang tentu ada persamaan dan perbedaan tapi demokrasi toh selalu mengakomodasi. Bisa gila..! Tai kambing berceceran di belakang rumah bukan masalah, justru akan jadi pupuk kompos (menurut pak tani) (tai anjing…?).

Suka atau tidak, mau maupun tidak mau, kenikmatan dari aroma tai anjing tentu saja menyebar bagai berita yang dikabarkan surat kabar tentu saja dengan aneka bumbu komentar, aneka penyedap yang membuat makin sedap didengar tapi makin tidak sedap dirasakan. Apalagi ini tai anjing milik tetangga yang tidak pernah rukun (makin bau tentu saja), efeknya tentu berbeda dengan tai anjing milik Pak Lurah yang sering berkunjung (bukan rasialis lho).

Baca pos ini lebih lanjut

Puisi (Sakit) Jiwa 2

Syair Sumbang Buat Bunda

dengar suara serak ini
lantunan bait kesakitan
kumandang kalimat kesepian
alunan keresahan

panggil aku pulang
dalam suara melodi malam
dalam mimpi tidur siang
dalam angan lamunan
Baca pos ini lebih lanjut